Sabtu, 10 November 2012

Ketakutan

Aku memikirkannya
Sepasang mata berlapis lensa,
Menatap lembut sekelilingnya
Rambut hitam melawan gravitasinya,
Mempesona
Bibir ranumnya melengkung tipis,
Menjadi zat adiktif alami
Sikap pendiamnya menguatkan kemisteriusan
Tubuh tinggi tegapnya bersandar di kursi sudut belakang,
Menakjubkan

Aku tak paham
Sosok manis itu mengusik ketenanganku
Menyentuh ujung hatiku untuk memperhatikannya
Memperhatikan setiap gerakan yang ia ciptakan
Tanpa persetujuan, jantungku berlompatan
Tiap kali pandangan sepasang bola mataku mendapatkan potret senyumnya
Membuatku berharap,
Lensa alamiku dapat mencetak senyum dari bibir ranumnya
Sepasang mataku menikmati gerak geriknya
Tanpa perlu diperintah
Dan semakin membuat jantungku berdebam keras

Jangan, jangan menyebar
Rasa ini tak pantas ada
Lagi otakku menampilkan siluet paras tampannya
Indah namun menyakitkan
Ada sedikit rasa sakin menusuk disetiap inci hatiku
Aku ketakutan
berharap rasa berbunga ini menghilang
Seiring teriakan menggema di ujung hati
Aku paham betul rasa apa yang kupendam,
Untuk sosok bermata lapis lensa itu
Rasa mencintai untuk lelaki berparas tampan tersebut
Namun jiwa ini terlalu takut
Terlalu menyakitkan

Aku terlalu takut,
Pada sosok lain yang menyengkeram bayang-bayang masa lalu
Aku terlalu takut,
Dihujam kalimat-kalimat pedas
Tentang perbedaan yang membelenggu
Dan sayangnya
Lelaki berparas tampan yang menyita perhatianku itu,
Berbeda kepercayaan
Membuatku takut untuk mencintainya
Membuatku lagi dihujam rasa frustasi yang mengurung tubuhku