Sabtu, 22 Desember 2012

gemericik air

gemericik air tenangkan jiwa
merelaksasikan kembali otot yang merenggang
mengedarkan ammarah yang kuasai pikiran
gemericik air yang meleburkan kesunyian
hasilkan orkestra alam bersama nyanyian katak
segarkan jiwa yang terbakar asa
gemericik air yang redamkan amarah
medinginkan aliran darah yang sarat akan kecemburuan
menormalkan kembali detak jantung yang berlarian
gemericik air yang mengalir di sungai
teman bermain bagi para flora
bagai zat adiktif yang harus dikonsumsi fauna
gemericik air yang mengalir
melabuhkan kenangan untuk kembali berputar
mengenag segala kerinduan yang berakhir dengan perpisahan
gemericik air,
sederhana dengan sejuta kehidupan

akankah?

kalimat ini didampingi sekelebat memori tentang sesosok manusia. bergender laki-laki. tingginya mungkin lima inci dari tinggi badanku. sosok itu nyata. ya memang nyata adanya di dalam setiap lantunan lirih kalimat rindu yang kuucapkan. lirih. sangat lirih. hingga sosok itu tak mampu mendengarkannya.

ribuan bait lagu kudendangkan. lirih. dengan sedikit polesan bayangan sosoknya terselip disetiap nada demi nada untuk menegaskan bahwa lantunan itu untuknya. hanya untuknya. tapi aku bisa apa? untaian kalimat bermelodi itu terlalu lemah, tak bertenaga hingga sosok yang berjarak puluhan kilometer dari tempatku terduduk itu tak menangkap simphoni yang kusampaikan padanya melalui telepati.


tak bisakah ia menajamkan sedikit hatinya?
agar ia bisa menangkap sinyal rindu yang kusampaikan. tak bisakah ia mendengar lantunan melodi yang kudedikasikan untuknya? bisakah ia?
ah mungkinkah aku terlalu berharap?
rindu ini terlalu kuat. hingga dapat melemahkan sel saraf yang menampung rasa rindu ini. hingga aku melemah tak berdaya karena kandungan rindu di darahku terlalu berlebihan. hingga rindu itu kucoba keluarkan melalui linangan air mata, namun tetap adanya di setiap nadiku. tak berkurang. bisakah ia merasakannya?

kelemahanku ini apakah tak ia pandang? rindu-rindu yang kian menjadi benalu di tubuhku ini tak menyentuh batinnya. ia dengan santainya berlari-lari. terkadang mampir di hati seseorang, lalu ia pergi, datang lagi di hati orang lain, lalu pergi lagi. kapan perjalanmu itu akan berakhir?

aku sudah lelah menahan segenap kerinduan yang membengkak. cepatlah pulang. aku menantimu. aku menantimu pulang. pulang ke hati ini. tapi apakah lagi-lagi aku terlalu berharap? apakah sosokmu itu akan kembali menggenggam rindu lalu membuangnya di sudut hati? akankah ia akan melukis ribuan kenangan baru untuk hati ini?
 akankah?

aku bertanya

kuberdiri menatap semburat jingga
menyaksikan tenggelamnya sang raja di peraduan
mengikut-sertakan kerapuhan yang selalu kugenggam
membentuk aliran sungai yang berasal dari sepasang katup mata
aku bertanya,
akankah rasa ini akan sama?
seperti sang mentari yang tenggelam,
akankah rasa ini turut tenggelam,
bersama kenangan yang susah payah kurajut?
kutatap hitamnya malam yang mulai berkuasa
dan aku tetap bertanya,
akankah sekelam itu rasa ini?
akankah sepekat itu kerapuhan ini?
seperti malam yang kelam

namun ketika sang dewi beserta dayang-dayangnya muncul di langit
aku kembali bertanya,
apakah kelamnya hati ini akan ada sinar lain?
akankah ada pendar lain yang akan menyinarinya?

terlalu lelah dengan beribu pertanyaan
tanpa ada jawaban
dan kini aku hanya terdiam
menatap pekatnya langit malam
yang menyerupai pekatnya hatiku

Sabtu, 10 November 2012

Ketakutan

Aku memikirkannya
Sepasang mata berlapis lensa,
Menatap lembut sekelilingnya
Rambut hitam melawan gravitasinya,
Mempesona
Bibir ranumnya melengkung tipis,
Menjadi zat adiktif alami
Sikap pendiamnya menguatkan kemisteriusan
Tubuh tinggi tegapnya bersandar di kursi sudut belakang,
Menakjubkan

Aku tak paham
Sosok manis itu mengusik ketenanganku
Menyentuh ujung hatiku untuk memperhatikannya
Memperhatikan setiap gerakan yang ia ciptakan
Tanpa persetujuan, jantungku berlompatan
Tiap kali pandangan sepasang bola mataku mendapatkan potret senyumnya
Membuatku berharap,
Lensa alamiku dapat mencetak senyum dari bibir ranumnya
Sepasang mataku menikmati gerak geriknya
Tanpa perlu diperintah
Dan semakin membuat jantungku berdebam keras

Jangan, jangan menyebar
Rasa ini tak pantas ada
Lagi otakku menampilkan siluet paras tampannya
Indah namun menyakitkan
Ada sedikit rasa sakin menusuk disetiap inci hatiku
Aku ketakutan
berharap rasa berbunga ini menghilang
Seiring teriakan menggema di ujung hati
Aku paham betul rasa apa yang kupendam,
Untuk sosok bermata lapis lensa itu
Rasa mencintai untuk lelaki berparas tampan tersebut
Namun jiwa ini terlalu takut
Terlalu menyakitkan

Aku terlalu takut,
Pada sosok lain yang menyengkeram bayang-bayang masa lalu
Aku terlalu takut,
Dihujam kalimat-kalimat pedas
Tentang perbedaan yang membelenggu
Dan sayangnya
Lelaki berparas tampan yang menyita perhatianku itu,
Berbeda kepercayaan
Membuatku takut untuk mencintainya
Membuatku lagi dihujam rasa frustasi yang mengurung tubuhku

Jumat, 26 Oktober 2012

Hujan

dalam diam helaan nafas itu mendengung, berat.
berkolaborasi gema rintikan hujan yang mendominasi
diiringi alunan instrumental bertempo lambat
menemani raga tak berjiwa di bangku rotan
bukan. raga itu bukan tak bernyawa.
hanya jiwanya melanglang buana entah kemana
raga yang menatap kosong rintikan konstan milik hujan
seakan menghakimi bulir-bulir hujan yang tak bersalah
tanpa disadari, bulir-bulir bening itu juga ikut mengalir
tak ingin kalah dengan hujan di depan pelupuk mata,
bulir mutiara itu turut berjatuhan mengikuti alur konstan sang hujan
mengalir dengan polosnya.

menyelami raga tak berjiwa di bangku rotan
hatinya turut merintikkan hujan beserta petirnya
di sana mendung. tak ada secercah sinar matahari yang tersenyum
samar-samar, alunan melankolis turut mewarnai hati itu

menyayat.
gabungan antara rintik hujan dan alunan itu, menyayat.
raga tak berjiwa itu meregang nyawa. hatinya terluka.
kolaborasi di hatinya, pisau tak kasat mata.
menyakiti tanpa harus melukai
lembut yang berbahaya. fatal.

oh oh oh. ada alunan lain yang memilukan,
rintihan dari bibir tipis raga tak berjiwa, yang menyebut satu nama.
pelan namun mengiris
menyempurnakan fenomena menyayat hati yang sedang tertampilkan

hujan.
mengapa kamu menyiksa raga itu?
mengapa...mengapa kamu menampilkan kembali kisah-kisah memilukan di hidupnya?
mengapa kamu mengingatkannya tentang masa lalu yang ia lewati?
hujan.
bisakah kamu mengurangi dosis kenangan dalam aromamu?
biarkan raga itu bernafas.
jangan kamu tusuk dengan jarum-jarum tak kasat mata di rintikmu
jangan kamu lukai lagi raga itu. jiwanya sudah terluka.
tak ada yang tersisa. jiwa itu hancur, hujan.
hujan.
maukan kamu mengasihani raga tak berjiwa itu?
hatinya tercabik-cabik karena belati lembutmu
hati itu sudah terluka parah. jangan lagi kamu memberi luka baru.
luka-lukanya masih basah. masih terasa perih.
hujan.
maukan kamu mendengar rintihanku ini?
rintihan dari raga tak berjiwa di bangku rotan.

Rabu, 10 Oktober 2012

Hambar

mengecap hambar
tertekan hampa
tedesak sunyi
jangan tanyakan kenapa
akupun tak paham
rasa ini tak bermakna
getaran hanya refleks
ritme tak berguna
rasa ini ganjil
tak berasa
hanya denyutan menyakitkan
menggenggam erat rasa
menguar pedih tak berfaedah
terdesak di ulu hati
menyamarkan rasa yang sebenarnya
rasa ini asing
pedih namun hambar
terkoyak namun utuh
bahagia namun hampa
apa ini?
rasa ini langka
melontarkan kabut
menutupi pori-pori perasa
akankah ini fana
ataukah selamanya
lalu aku bisa apa?
haruskah aku menahan semua?
haruskah aku merasakan hampa
sedih
hati ini tak berasa
tak bermakna
tak berisi
hampa

Rabu, 03 Oktober 2012

September Akhir

September akhir,
ketika hati ini terikat seuntai benang,
terikat dengan hatimu
hati ini masih bisa dirasakan
denyut denyut nadi berkejar-kejaran
mengangkut rangsang bahagia di sel saraf
menggetarkan hati yang kian menghangat

September akhir,
ketika sayap-sayapku masih patah karenanya
masih tak dapat digerakkan, mati rasa, tak berguna
namun tiba-tiba kamu datang
menyentuh sayap patahku
lalu kau sembuhkan penuh perhatian
tak luput dari luka-luka lama yang masih membekas
kau obati luka itu penuh ikhlas

September akhir,
saat kepakkan sayapku mulai terasa
bahagia tak terkira karenanya
dan kamu terbang bersamaku di angkasa
menjamahi sudut-sudut ruang hampa
menggenggam lembut hati yang merona

September akhir,
mengingatkanku akan perbedaan
ketika kesadaran kian menggerogotiku, bahwa
kau di jalan Bapa, sedangkan aku
di jalan Allah
tembok tinggi itu membatasi kita
tapi

di September akhir,
aku menyadari,
perbedaan bukanlah masalah
buatku paham
perbedaan itu menguatkanku
menyatukan kita

Jumat, 24 Agustus 2012

bunga tidur

pagi ini, seluruh mimpi yang sedari tadi menari-nari dalam lingkup otakku sedikit demi sedikit meluntur. aku benci, kenapa mimpi akan cepat terlupakan. sekeras apapun cara untuk mengingatnya. hey aku tidak sedang berbual. itu kenyataan. aku sendiri yang melakukan 'hal bodoh' itu. disetiap bunga tidur yang indah, aku selalu mencoba untuk mengingatnya. tapi hasilnya? aku hanya ingat sebagian kecil. hanya sebagian potongan puzzle yang kembali di acak.

oh ya. kembali lagi pada mimpiku pagi ini. mimpi yang membuatku tersenyum. ya. bunga tidur yang baru saja kualami itu terasa sangat indah. saking indahnya, mimpi itu membuatku melayang. bodoh bukan? haha.
hmm mimpi pagi ini...oh astaga! aku membayangkan mimpi itu lagi! walaupun tidak sesempurna mimpi yang asli namun bayangan itu tetap membuatku bahagia dan mungkin aku akan disangka orang gila karena tersenyum-senyum sendiri.
sembari menari-narikan jemariku untuk menulis kalimat demi kalimat ini, lagi-lagi aku tersenyum.
bolehkan aku menceritakan sedikit rahasia kecil dalam bunga tidurku malam ini? setidaknya, aku menorehkan kalimat demi kalimat ini dengan sepenuh hati. apakah aku berlebihan? menurutku tidak ah.

saat itu. entah aku tak tahu sebenarnya kita berada dimana. kita? iya. kita. aku dan kamu. bolehkan aku menyebut aku dan kamu sebagai kita? seingatku tempat itu berada di padang ilalang yang menyembunyikan sebuah danau indah. kita bersenda gurau. akrab. terlihat sebagai sepasang kekasih yang sangat membuat orang melihatnya iri. tapi sayang sekali, di mimpi itu tak ada orang lain selain kita hahahaha. kita berlari di hamparan luas ilalang dengan jemari yang saling bertautan. indah. kita berlari-lari hingga lelah mulai hinggap di tubuh  kita. dan kita menjatuhkan diri di padang ilalang. kurasakan tanganmu kembali mencoba bertaut di jemari mungilku. kuingat saat itu aku tersenyum. pipiku memanas! haha. bahagia tentu saja. sudah lama aku tak merasakan genggaman tangannya. dan dalam mimpi ini aku merasakannya kembali. walaupun cuma mimpi.....iya cuma mimpi. apa salah? aku merasakan mimpi itu sangat nyata.
terkadang kamu mengacak pelan rambutku dan mebuat rambutku berantakan. saat aku cemberut karena perbuatanmu, kamu merapikan rambutku dengan jemarimu. plus cubitan di salah satu sisi pipiku. memang tidak sakit, tapi mampu membuat pipiku memanas. bukan karena sakit, tapi karena sentuhan tangannya.

ah hanya itu sebagian potongan puzzle yang kuingat. sayang sekali........padahal aku yakin ada lebih banyak hal yang kita lakukan di padang ilalang itu. sayang ingatan itu kian meluruh. andai saja bunga tidur itu dapat terekam lebih banyak.
oh iya, kamu. kalau kamu menyayanginya, lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. aku ikhlas. walaupun menyesakkan. dan maaf, hanya dengan cara ini aku merasakanmu yang menyayangiku. dengan berbagai mimpi tentang kita. tolong....jangan paksa aku untuk tidak memimpikanmu. karena ini bukan kemauanku. mungkin saat aku tertidur, hatiku selalu merindukanmu. sehingga hatiku menyuruh otak untuk membuat sekelumit potongan kisah indah kita untukku. sekali lagi maaf.

Minggu, 05 Agustus 2012

Berubah

dalam ladang alang-alang
melambai-lambai membelai
menyentuh langit luas
menggerayangi hampa
cahaya bulan merambat
memantulkan sinar sang raja
nyanyian jangkrik menelusuk masuk
dalam dalam jadikan simphoni alam
ia melenguh
menatap hamparan kunang-kunang
menari-nari di bawah pantulan bulan
indah
damai
seketika terbang ke metropolitan
gedung-gedung pencakar langit mencakar-cakar hampa
hingar bingar mesin terdengar dari robot kuda
kunang-kunang menghilang
tergantikan tenggeran lampu
alunan abstrak,
campuran club malam
aroma menyesakkan dari carbon monoxida
tak ada ilalang
hanya ada lampu pinggiran
bising
sedih

semuanya berubah
surga dunia hancur tertelan bangunan

Jeritan

Bisakah aku? Menggenggam serpihan rindu yang terkoyak. Yang telah hancur lebur karena debaman luka.

Bolehkah aku menggetarkan lagi bait-bait cinta yang kian hancur ditelan waktu.

Sanggupkah aku menatapmu, menatap manik matamu yang memancarkan sinar namun bukan untukku.

Jika sinar itu benar berpendar bukan untukku, yakinkan aku, sadar kan aku. Agar aku dapat tertatih menjauh dan menatapmu dari jarak yang membentang.

Tersenyumlah. Agar aku dapat melihat senyum apa yang kau suguhkan untukku. Agar aku dapat membaca makna yang tersirat dari senyum itu.

Sanggupkah aku, melihatmu yang kini penuh bahagia. Yang kuyakini, pendar bahagia itu bukan dariku.

Sanggupkah aku, mengamatimu yang kini tak bersamaku. Menatapmu yang kini -mungkin- ada sesosok lain yang singgah di hatimu.

Sanggupkah aku, menahan penyesalan yang kian menghimpit rongga dadaku yang hampa?

Bisakah aku menggapai tali-tali rindu yang mulai lapuk tak terawat?

Bisakah aku menyenandungkan syair-syair yang menggambarkan rasa sayangku terhadapmu?

Jika kau menyayanginya, katakanlah kepadaku. Biarkan dawai-dawai cinta ini putus tak terpetik. Biarkan perih yang tinggal di hatiku semakin bergejolak. Biarkan dentum-dentum penyesalan itu meledak. Agar aku tak dapat merasakan sayangku terhadapmu.

Selasa, 05 Juni 2012

Jeritan

Ketika hati ini terbengkalai
Hati ini terbuang
Bolehkah aku mempertahankannya?
Bolehkah aku menggapainya kembali?
Merawatnya dengan sepenuh hati
Menjaganya dari bahaya
Memberinya pupuk untuk tetap tumbuh
Bolehkah aku melakukannya?
Dan bolehkah aku bertanya?
Mengapa kau meninggalkannya?
Membuangnya?
Melukainya?
Akankah ia parasit bagimu?
Akankah ia membahayakanmu?
Akankah?
Ahh...
Mengapa aku bertanya seperti itu
Bertanya padamu pasti takkan membuahkan hasil
Kau takkan mengambilnya lagi, bukan?
Yah aku tahu itu
Semoga kau bahagia
Dan aku?
Aku akan merawatnya sendiri hingga kau kembali
Atau
Hingga ada hati lain yang menggantikanmu

Masa

Lelah
Menanti masa yang akan bersinar
Menanti seuntai kalimat yang bergetar
Menanti tatapan setajam elang yang kau layangkan
Ribuan derai air mata yang berkorban
Tak sedikitpun kau gubris dengan sentuhan
Rasa ini
Rasa yang tak terjamah
Rasa yang terabaikan
Rasa yang hampa
Tak sedikitpun kau longkok untuk mencarinya
Tak pernah kau belai dengan bait-bait syahdumu
Rasa ini
Rasa yang kosong
Tak ada yang menempatinya
Kau pun buta
Tak melihat seonggok hati yang menanti
Kau tuli
Tak mendengar rasa yang menggema
Akankah kau membukakan pintumu?
Memberiku kesempatan
Untuk memijaki porselen dingin di dasar hatimu
Bolehkah aku menjejakinya?
Merasakan setiap dinding dalam hatimu
Menghangatkannya dengan rasaku
Akankah masa itu akan datang?
Untuk menggapai rasaku yang menggantung
Untuk menghangatkan hatiku yang mendingin
Akankah masa-masa itu akan kembali?

Sabtu, 05 Mei 2012

drama

guliran waktu tetap berjalan
tak peduli dengan drama yang sedang terputar
musim terus berganti
menyuguhkan keindahan tersendiri
hati ini terus bergulir
mengalir bagai air
merambat bagai cahaya
hati ini tetap mengalir
walau kelabu merangkak menaunginya
hati ini tetap terjaga
walau kelelahan melingkupinya
hati ini tetap bersinar
walau berbagai siluet menghalangi
tak peduli hitam
jiwa ini tetap teguh
berdiri menantang kelam
jiwa ini tetap tegap
meskipun berbagai hujaman mencoba menjatuhkannya
tak peduli dengan drama yang terjadi
rasa ini selalu bersinar
mengalahkan hujatan yang tajam
rinai hujan pun menjaganya
dalam atmosfir kerinduan
tak peduli dengan sejata lawan
rasa ini tetap berkembang
menelusup kalbu terdalam
tak peduli dengan caci maki
jiwa ini tetap tenang
walaupun dihujani penantian

Sabtu, 07 April 2012

kanvas

helaan nafas menggema
berat...
mencoba membuang semua beban yang terasa
rentetan kejadian yang mengusik

Kamis, 05 April 2012

bambu runcing (tugas)

deru nafasmu yang berirama
dengan seribu tekad bercampur kobaran api yang membara
sebilang bambu yang kau runcingkan

Ketika Rasa Hadirkan Kenangan (tugas)

dalam hati tergelitik saat senyum itu terkembang
buaian roma merah jambu latarkan perasaanku
rasa ini bahkan masih merasuki jiwaku
rinai hujan yang datang terkadang membuatku kewalahan
karena...

Rabu, 04 April 2012

melodi rindu

rindu menjalar sesakkan ulu hati
senyum terkembang sisakan pedih
perih hati tak seberapa
debam rindu mengisi ruang hampa

ujung pedang

rinaian hujan yang berbaur dengan kerinduan
kepakkan sayap yang terkembang mulai melemah beraturan
hamparan sabana kini menyapu setiap haluan

hujan dan kenangan

terpaku pada rinai hujan yang turun
mengingatkanku akan kenangan manis
saat bersama tawa yang temaniku saat itu

apa yang kurasakan?

tersenyum dengan sayatan panjang di ulu hati
ditemani airmata yang mengalir di sudut mata
menangkap dua siluet manusia yang bercengkrama

kamu

sejak mengenalmu aku selalu tertawa
sejak mengenalmu senyumku tak pernah memudar
sejak mengenalmu aku bahagia

rasaku

kamu...
aku bahagia karena kehadiranmu
kehadiranmu yang membantuku untuk melupakan dia
hari demi hariku kamu hadirkan senyuman diwajahku

masa lalu

kutemui lagi penggantimu
yang kini mampu merebut seluruh hatiku
entah sejak kapan aku mencintainya
akupun tak sadar
namun aku bahagia

Tanam Impian, Bahagiaku

Kau kembali dengan kisah masa lalu
Untuk kujadikan kenangan dalam hati
Aku tak berharap lebih untuk menggapai cintamu kembali
Dengan sisa pahit kucoba untuk berdiri

Harapan Dalam Peraduan

Ia yang berdiri disana
Rambutnya yang bergoyang mengikuti irama angin
Dengan lesung pipi yang terpeta saat ia tersenyum
Tak luput sorot tajamnya yang menantang haluan

Hati Yang Mati

Saat kita bersama
Dunia seperti milik kita
Tawa menggema dalam rongga
Iri kan setiap pandangan mata

Janji Sahabat

Tetes air mata yang dapat gambarkan semua
Kecewa...
Marah...
Sedih...

Sahabat Dan Alam

Lembayung jingga menguasai dunia
Menandakan bahwa petang tlah tiba
Kubuka mata untuk ikuti sebuah irama

Jangan lupakan aku

Aku tak tau…
Mana yang harus kupertahankan
Sebuah masa yang menyulitkanku

sang bintang

Saat malam menguasai dunia
Ku hanya bisa terpaku mengamatinya
Ia yang selalu temaniku
Ia yang selalu tenangkanku