kuberdiri menatap semburat jingga
menyaksikan tenggelamnya sang raja di peraduan
mengikut-sertakan kerapuhan yang selalu kugenggam
membentuk aliran sungai yang berasal dari sepasang katup mata
aku bertanya,
akankah rasa ini akan sama?
seperti sang mentari yang tenggelam,
akankah rasa ini turut tenggelam,
bersama kenangan yang susah payah kurajut?
kutatap hitamnya malam yang mulai berkuasa
dan aku tetap bertanya,
akankah sekelam itu rasa ini?
akankah sepekat itu kerapuhan ini?
seperti malam yang kelam
namun ketika sang dewi beserta dayang-dayangnya muncul di langit
aku kembali bertanya,
apakah kelamnya hati ini akan ada sinar lain?
akankah ada pendar lain yang akan menyinarinya?
terlalu lelah dengan beribu pertanyaan
tanpa ada jawaban
dan kini aku hanya terdiam
menatap pekatnya langit malam
yang menyerupai pekatnya hatiku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar