Jumat, 17 Januari 2014

apa aku egois?

kamu tahu betul apa itu cinta. kamu tahu betul apa definisi dari kata sayang. tapi, mengapa kamu seakan-akan mendadak buta akan itu semua?

sebuah pertanyaan yang bahkan hingga detik ini menjadi sebuah momok besar dalam setiap aliran dalam otakku. pertanyaan yang melayang-layang tanpa tahu jawabannya karena kamu memilih untuk bungkam. memilih untuk menyimpannya sendiri tanpa memahami apa yang sangat kutunggu-tunggu dari setiap kata yang terucap dari bibirmu itu.

rasa ini memang hanya rasa biasa. rasa yang tak berdasar akan hal yang pasti. rasa yang hampir selalu terselip dalam barisan suku kata di setiap pengucapan yang keluar dari bibir para remaja. rasa yang tak pantas disebut suka karena rasa ini sudah melebihi level itu. tak pantas pula disebut kagum karena aku tak memperhatikan kelebihannya. mungkinkah ini rasa sayang?

ada waktu dikala aku meragu akan setiap perasaan-perasaan yang muncul di dalam rongga ini. meragu akan setiap getaran-getaran lembut yang menyentuh sudut perutku hingga membuatnya terasa bergetar bagai dihinggapi ribuan kupu-kupu. meragu akan setiap sengatan-sengatan lembut yang menjalar ke kedua bongkah pipiku.
namun ada hal yang membuatku berani meluapkannya. ada tangan-tangan kecil yang mendorongku untuk meluapkan perasaan-perasaan itu di setiap langkah jika keraguan mulai membayangiku.
terkadang aku mulai berpikir bahwa aku terlalu mengedepankan sisi keegoisanku dalam hal ini. aku terlalu egois untuk mengedepankan sebuah bentuk perasaan yang bahkan aku sendiri tidak paham akan arti-artinya secara mendalam. aku hanya mengedepankan sisi emosiku yang terlalu menggebu-gebu akan segala hal yang berhubungan denganmu.

dan pada detik ini aku menyadari sesuatu. dari mudah dan tipisnya sebuah tali yang mengikat kita ini, membuatku berpikir ulang akan setiap siluet kejadian yang telah kita lalui. terlalu sedikit memang karena tali ini masih rapuh, masih muda, dan butuh pengalaman untuk menjadikannya sebuah tali pengikat yang kuat. tetapi siluet-siluet itu tergambar jelas bahwa pengikat itu terlalu panjang hingga aku merasa hanya aku sendiri yang memegang ujung tali itu erat-erat seakan aku tidak ingin ujung tali itu terlepas dari genggaman kedua tangan mungilku ini. sedangkan ujung satunya hanya kamu lepaskan begitu saja hingga memudahkan tali-tali yang lebih menarik mudah untuk mengikatmu lebih kencang dari tali kita dan membiarkan taliku terlepas begitu saja dari lilitan di ragamu. apakah pemikiranku ini benar?

karena pemikiran-pemikiran itu yang membuatku menelan pahit tentang manisnya sebuah cinta. dan memunculkan berbagai petanyaan yang tercetus dalam otakku. apa benar cinta itu manis? lalu dalam kasus kita, apa itu dinamakan cinta? sedangkan kata 'mereka' cinta itu tentang sebuah ikatan tali yang disetiap ujungnya di pegang erat hingga tidak mudah terlepas oleh kedua belah hati yang terikat tali tersebut. padahal dalam kasus kita ini hanya aku saja yang menggenggam erat satu ujung yang mengikat kita. apakah aku salah? lalu hubungan apa yang sedang kita jalani ini kalau bukan yang namanya cinta?

pemikiran-peminkiran itu muncul menerjangku hingga aku tejatuh dalam jurang yang paling dalam. membuat segala hubungan tentang logika dan hati menjadi buyar dan terputus. dan kemudian diantara logika dan hati, ternyata raga ini memfokuskan pada hati yang mengelu-elukan namamu. sekarang semuanya tentang hatiku yang terlalu menitik-beratkan pada namamu. aku terlalu memfokuskan hatiku hingga mengubahnya menjadi sebuah ambisi. ambisi untuk mengikatmu lebih erat hingga tidak memikirkan apa yang sedang kamu rasakan. apa aku terlalu egois?
aku tidak tau apa aku egois bagi hak-hakmu, makadari itu, tolong katakan sejujurnya apa yang kamu rasakan agar aku dapat memutuskan apakah aku harus bertahan memegang erat ujung tali tersebut secara erat atau aku harus melepaskan ujung tali yang telah aku jaga itu secara perlahan. agar aku tidak egois dan kamu tidak tertahan dalam ikatan tali yang sia-sia.