sosoknya masih sama. kacamata minus yang bertengger di pangkal hidungnya masih sama. senyum manisnya masih sama, tak sedikitpun memudar. aromanya pun masih bisa kuhirup, aroma yang memabukkan. matanya masih tajam yang tersamarkan. suaranya masih sama seperti dulu pula.
lalu apa yang berubah?
kurasakan dan terus kurasakan. membuatku merenungi kembali apa yang telah terjadi. dan ketika aku tersadar, ternyata organ di dalam rongga dadaku ini yang berubah. ia tak lagi berdetak menyalahi aturan. ia tak lagi menimbulkan rasa cemas berbaur kenyamanan. ia tak lagi menghasilkan getar-getar menggelikan di perutku. hanya hambar. hambar. dan hambar. tak lagi ada rasa memabukkan yang terpancar dari sosok itu. tak lagi ada getar-getar yang kukenal. hanya rasa biasa yang tak kusadari sejak kapan rasa itu bersarang. hati ini tak lagi menghangat ketika melihat lengkungan senyum manis menawan yang ia tarik dari kedua sudut bibir tipisnya. walaupun dengan jujur kuakui sosok itu menjelma menjadi makhluk Tuhan yang indah. meski secara fisik ia tak berubah. tapi auranya semakin hari semakin menguar. namun tetap saja ia tak lagi mengguncangkan akal sehatku.
apa yang terjadi padaku?
rasa ini tak lagi berpendar seperti sebelumnya. rasa ini melemah. tak lagi ada rasa peduli terhadapnya. walaupun otakku menyangkal, namun tak dapat dipungkiri kalau hatiku justru membenarkan. rasa ini tak lagi sekuat dulu. rasanya tak lagi sama. tak lagi menelusup dalam setiap inci tubuhku. bagaikan ditarik paksa, jiwaku tak paham akan ini semua. rasa yang setiap hari menemaniku dengan mensuplai bayang-bayang wajahnya di pikiranku tiba-tiba menghilang. hingga menghambarkan raga.
membingungkan.
ada secuil rasa lega ketika rasa itu pergi. karena hati ini tak lagi menekan jiwa terlalu dalam. hingga secara tak sadar, tak hanya jiwaku, ternyata ragaku juga ikut tenggelam dalam rasa itu. dan ketika rasa itu menghilang, rasa tertekan itu tak lagi menyesakkan.
namun ada juga separuh rasa kehilangan. tak rela jika rasa yang telah menjadi teman menghilang dari raga. tak dipungkiri bahwa aku merindukan rasa itu.
jadi, apakah cinta ini benar-benar sudah memudar?