Jumat, 26 Oktober 2012

Hujan

dalam diam helaan nafas itu mendengung, berat.
berkolaborasi gema rintikan hujan yang mendominasi
diiringi alunan instrumental bertempo lambat
menemani raga tak berjiwa di bangku rotan
bukan. raga itu bukan tak bernyawa.
hanya jiwanya melanglang buana entah kemana
raga yang menatap kosong rintikan konstan milik hujan
seakan menghakimi bulir-bulir hujan yang tak bersalah
tanpa disadari, bulir-bulir bening itu juga ikut mengalir
tak ingin kalah dengan hujan di depan pelupuk mata,
bulir mutiara itu turut berjatuhan mengikuti alur konstan sang hujan
mengalir dengan polosnya.

menyelami raga tak berjiwa di bangku rotan
hatinya turut merintikkan hujan beserta petirnya
di sana mendung. tak ada secercah sinar matahari yang tersenyum
samar-samar, alunan melankolis turut mewarnai hati itu

menyayat.
gabungan antara rintik hujan dan alunan itu, menyayat.
raga tak berjiwa itu meregang nyawa. hatinya terluka.
kolaborasi di hatinya, pisau tak kasat mata.
menyakiti tanpa harus melukai
lembut yang berbahaya. fatal.

oh oh oh. ada alunan lain yang memilukan,
rintihan dari bibir tipis raga tak berjiwa, yang menyebut satu nama.
pelan namun mengiris
menyempurnakan fenomena menyayat hati yang sedang tertampilkan

hujan.
mengapa kamu menyiksa raga itu?
mengapa...mengapa kamu menampilkan kembali kisah-kisah memilukan di hidupnya?
mengapa kamu mengingatkannya tentang masa lalu yang ia lewati?
hujan.
bisakah kamu mengurangi dosis kenangan dalam aromamu?
biarkan raga itu bernafas.
jangan kamu tusuk dengan jarum-jarum tak kasat mata di rintikmu
jangan kamu lukai lagi raga itu. jiwanya sudah terluka.
tak ada yang tersisa. jiwa itu hancur, hujan.
hujan.
maukan kamu mengasihani raga tak berjiwa itu?
hatinya tercabik-cabik karena belati lembutmu
hati itu sudah terluka parah. jangan lagi kamu memberi luka baru.
luka-lukanya masih basah. masih terasa perih.
hujan.
maukan kamu mendengar rintihanku ini?
rintihan dari raga tak berjiwa di bangku rotan.

Rabu, 10 Oktober 2012

Hambar

mengecap hambar
tertekan hampa
tedesak sunyi
jangan tanyakan kenapa
akupun tak paham
rasa ini tak bermakna
getaran hanya refleks
ritme tak berguna
rasa ini ganjil
tak berasa
hanya denyutan menyakitkan
menggenggam erat rasa
menguar pedih tak berfaedah
terdesak di ulu hati
menyamarkan rasa yang sebenarnya
rasa ini asing
pedih namun hambar
terkoyak namun utuh
bahagia namun hampa
apa ini?
rasa ini langka
melontarkan kabut
menutupi pori-pori perasa
akankah ini fana
ataukah selamanya
lalu aku bisa apa?
haruskah aku menahan semua?
haruskah aku merasakan hampa
sedih
hati ini tak berasa
tak bermakna
tak berisi
hampa

Rabu, 03 Oktober 2012

September Akhir

September akhir,
ketika hati ini terikat seuntai benang,
terikat dengan hatimu
hati ini masih bisa dirasakan
denyut denyut nadi berkejar-kejaran
mengangkut rangsang bahagia di sel saraf
menggetarkan hati yang kian menghangat

September akhir,
ketika sayap-sayapku masih patah karenanya
masih tak dapat digerakkan, mati rasa, tak berguna
namun tiba-tiba kamu datang
menyentuh sayap patahku
lalu kau sembuhkan penuh perhatian
tak luput dari luka-luka lama yang masih membekas
kau obati luka itu penuh ikhlas

September akhir,
saat kepakkan sayapku mulai terasa
bahagia tak terkira karenanya
dan kamu terbang bersamaku di angkasa
menjamahi sudut-sudut ruang hampa
menggenggam lembut hati yang merona

September akhir,
mengingatkanku akan perbedaan
ketika kesadaran kian menggerogotiku, bahwa
kau di jalan Bapa, sedangkan aku
di jalan Allah
tembok tinggi itu membatasi kita
tapi

di September akhir,
aku menyadari,
perbedaan bukanlah masalah
buatku paham
perbedaan itu menguatkanku
menyatukan kita