pernahkah aku mengatakan bahwa aku akan tetap bahagia di atas kesedihanku sendiri? bahagia disaat dia bahagia entah dengan siapapun itu yang dapat membuatnya nyaman? aku memang pernah mengatakannya, turut bahagia disaat dia bahagia dengan pilihannya sendiri. dan pastinya bukan aku.
bukan aku yang mengisi setiap detik tawa lebarnya, bukan aku yang menatap setiap menit senyum manisnya, bukan aku yang menemani setiap jam kenyamanannya. dan pastinya bukan aku juga yang mendengar setiap getar suara baritonnya menggemakan kata cinta, kata sayang, kata rindu, dan kata-kata lain yang memiliki getar berbeda. hanya getar yang ditujukan untuk orang terspesialnya.
sakit memang. ketika menyadari bahwa ternyata dia memiliki kaitan benang merah yang berbeda. ketika menyadari bahwa ternyata kutub yang berbeda itu tidak saling menarik seperti yang diharapkan. tidak saling terhubung untuk dapat saling menyatu.
sakit memang. ketika menyadari bahwa perasaan yang sudah terlalu lama dipertahankan akhirnya mendapatkan jawaban. bukan jawaban yang baik memang. sebuah jawaban yang mengiris lembut perasaan. tidak dengan pisau tajam, bukan pula dengan paku berujung runcing. hanya dengan sebuah fakta yang menyakitkan. fakta yang bagai sayatan silet. tipis namun melukai.
sakit memang. ketika mengetahui bahwa sela-sela jemarinya sudah terisi oleh jemari lain. ketika menyadari bahwa jemarinya saling menggenggam erat penuh perlindungan dengan jemari lain milik seorang perempuan. perempuan yang pastinya bukan aku.
pedih memang. ketika menyadari bahwa debaran nyaman yang selalu ada ketika menatapnya berubah menjadi debaran menyakitkan yang menyesakkan saat menatapnya berdampingan dengan perempuan lain.
lalu ketika aku sudah menyadari semuanya, apa yang harus kulakukan? ketika perasaan yang dengan akrabnya menemani hari-hariku mendapat balasan yang terasa sangat pedih ini? ikhlaskah aku ketika mengetahui bahwa dia sudah dimiliki orang lain?