Jumat, 24 Agustus 2012

bunga tidur

pagi ini, seluruh mimpi yang sedari tadi menari-nari dalam lingkup otakku sedikit demi sedikit meluntur. aku benci, kenapa mimpi akan cepat terlupakan. sekeras apapun cara untuk mengingatnya. hey aku tidak sedang berbual. itu kenyataan. aku sendiri yang melakukan 'hal bodoh' itu. disetiap bunga tidur yang indah, aku selalu mencoba untuk mengingatnya. tapi hasilnya? aku hanya ingat sebagian kecil. hanya sebagian potongan puzzle yang kembali di acak.

oh ya. kembali lagi pada mimpiku pagi ini. mimpi yang membuatku tersenyum. ya. bunga tidur yang baru saja kualami itu terasa sangat indah. saking indahnya, mimpi itu membuatku melayang. bodoh bukan? haha.
hmm mimpi pagi ini...oh astaga! aku membayangkan mimpi itu lagi! walaupun tidak sesempurna mimpi yang asli namun bayangan itu tetap membuatku bahagia dan mungkin aku akan disangka orang gila karena tersenyum-senyum sendiri.
sembari menari-narikan jemariku untuk menulis kalimat demi kalimat ini, lagi-lagi aku tersenyum.
bolehkan aku menceritakan sedikit rahasia kecil dalam bunga tidurku malam ini? setidaknya, aku menorehkan kalimat demi kalimat ini dengan sepenuh hati. apakah aku berlebihan? menurutku tidak ah.

saat itu. entah aku tak tahu sebenarnya kita berada dimana. kita? iya. kita. aku dan kamu. bolehkan aku menyebut aku dan kamu sebagai kita? seingatku tempat itu berada di padang ilalang yang menyembunyikan sebuah danau indah. kita bersenda gurau. akrab. terlihat sebagai sepasang kekasih yang sangat membuat orang melihatnya iri. tapi sayang sekali, di mimpi itu tak ada orang lain selain kita hahahaha. kita berlari di hamparan luas ilalang dengan jemari yang saling bertautan. indah. kita berlari-lari hingga lelah mulai hinggap di tubuh  kita. dan kita menjatuhkan diri di padang ilalang. kurasakan tanganmu kembali mencoba bertaut di jemari mungilku. kuingat saat itu aku tersenyum. pipiku memanas! haha. bahagia tentu saja. sudah lama aku tak merasakan genggaman tangannya. dan dalam mimpi ini aku merasakannya kembali. walaupun cuma mimpi.....iya cuma mimpi. apa salah? aku merasakan mimpi itu sangat nyata.
terkadang kamu mengacak pelan rambutku dan mebuat rambutku berantakan. saat aku cemberut karena perbuatanmu, kamu merapikan rambutku dengan jemarimu. plus cubitan di salah satu sisi pipiku. memang tidak sakit, tapi mampu membuat pipiku memanas. bukan karena sakit, tapi karena sentuhan tangannya.

ah hanya itu sebagian potongan puzzle yang kuingat. sayang sekali........padahal aku yakin ada lebih banyak hal yang kita lakukan di padang ilalang itu. sayang ingatan itu kian meluruh. andai saja bunga tidur itu dapat terekam lebih banyak.
oh iya, kamu. kalau kamu menyayanginya, lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. aku ikhlas. walaupun menyesakkan. dan maaf, hanya dengan cara ini aku merasakanmu yang menyayangiku. dengan berbagai mimpi tentang kita. tolong....jangan paksa aku untuk tidak memimpikanmu. karena ini bukan kemauanku. mungkin saat aku tertidur, hatiku selalu merindukanmu. sehingga hatiku menyuruh otak untuk membuat sekelumit potongan kisah indah kita untukku. sekali lagi maaf.

Minggu, 05 Agustus 2012

Berubah

dalam ladang alang-alang
melambai-lambai membelai
menyentuh langit luas
menggerayangi hampa
cahaya bulan merambat
memantulkan sinar sang raja
nyanyian jangkrik menelusuk masuk
dalam dalam jadikan simphoni alam
ia melenguh
menatap hamparan kunang-kunang
menari-nari di bawah pantulan bulan
indah
damai
seketika terbang ke metropolitan
gedung-gedung pencakar langit mencakar-cakar hampa
hingar bingar mesin terdengar dari robot kuda
kunang-kunang menghilang
tergantikan tenggeran lampu
alunan abstrak,
campuran club malam
aroma menyesakkan dari carbon monoxida
tak ada ilalang
hanya ada lampu pinggiran
bising
sedih

semuanya berubah
surga dunia hancur tertelan bangunan

Jeritan

Bisakah aku? Menggenggam serpihan rindu yang terkoyak. Yang telah hancur lebur karena debaman luka.

Bolehkah aku menggetarkan lagi bait-bait cinta yang kian hancur ditelan waktu.

Sanggupkah aku menatapmu, menatap manik matamu yang memancarkan sinar namun bukan untukku.

Jika sinar itu benar berpendar bukan untukku, yakinkan aku, sadar kan aku. Agar aku dapat tertatih menjauh dan menatapmu dari jarak yang membentang.

Tersenyumlah. Agar aku dapat melihat senyum apa yang kau suguhkan untukku. Agar aku dapat membaca makna yang tersirat dari senyum itu.

Sanggupkah aku, melihatmu yang kini penuh bahagia. Yang kuyakini, pendar bahagia itu bukan dariku.

Sanggupkah aku, mengamatimu yang kini tak bersamaku. Menatapmu yang kini -mungkin- ada sesosok lain yang singgah di hatimu.

Sanggupkah aku, menahan penyesalan yang kian menghimpit rongga dadaku yang hampa?

Bisakah aku menggapai tali-tali rindu yang mulai lapuk tak terawat?

Bisakah aku menyenandungkan syair-syair yang menggambarkan rasa sayangku terhadapmu?

Jika kau menyayanginya, katakanlah kepadaku. Biarkan dawai-dawai cinta ini putus tak terpetik. Biarkan perih yang tinggal di hatiku semakin bergejolak. Biarkan dentum-dentum penyesalan itu meledak. Agar aku tak dapat merasakan sayangku terhadapmu.