Minggu, 05 Agustus 2012

Jeritan

Bisakah aku? Menggenggam serpihan rindu yang terkoyak. Yang telah hancur lebur karena debaman luka.

Bolehkah aku menggetarkan lagi bait-bait cinta yang kian hancur ditelan waktu.

Sanggupkah aku menatapmu, menatap manik matamu yang memancarkan sinar namun bukan untukku.

Jika sinar itu benar berpendar bukan untukku, yakinkan aku, sadar kan aku. Agar aku dapat tertatih menjauh dan menatapmu dari jarak yang membentang.

Tersenyumlah. Agar aku dapat melihat senyum apa yang kau suguhkan untukku. Agar aku dapat membaca makna yang tersirat dari senyum itu.

Sanggupkah aku, melihatmu yang kini penuh bahagia. Yang kuyakini, pendar bahagia itu bukan dariku.

Sanggupkah aku, mengamatimu yang kini tak bersamaku. Menatapmu yang kini -mungkin- ada sesosok lain yang singgah di hatimu.

Sanggupkah aku, menahan penyesalan yang kian menghimpit rongga dadaku yang hampa?

Bisakah aku menggapai tali-tali rindu yang mulai lapuk tak terawat?

Bisakah aku menyenandungkan syair-syair yang menggambarkan rasa sayangku terhadapmu?

Jika kau menyayanginya, katakanlah kepadaku. Biarkan dawai-dawai cinta ini putus tak terpetik. Biarkan perih yang tinggal di hatiku semakin bergejolak. Biarkan dentum-dentum penyesalan itu meledak. Agar aku tak dapat merasakan sayangku terhadapmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar