Rabu, 04 April 2012

ujung pedang

rinaian hujan yang berbaur dengan kerinduan
kepakkan sayap yang terkembang mulai melemah beraturan
hamparan sabana kini menyapu setiap haluan


nyaringnya melodi kerinduan yang syahdu
putuskan asa untuk mencoba berlari
menjauhi garis warna kehitaman
apalah daya ketika syair menggema
mempercepat kikisan pada keoptimisan
sentakkan listrik kini mematahkan senyuman
namun hati tetap gigih melawan serdadu lawan
hentakkan kaki untuk keoptimisan kini beraturan
mengembangkan lagi layar yang hendak diturunkan
bahagia pada sentuhan lembut ujung pedang
tak perlu takut akan ketajaman senjata
rindu tetap beradu melawan kelemahan
melodi masih menggaung pada bibir rindu
bunga yang layu kembali mekar
memunculkan buah-buah manis hasil pengorbanan
senyummu tak akan pudar
dalam jutaan ruang hampa untuk menyimpannya
tatapan matamu tak pernah hilang
masih terekam dalam kamera mataku
belaian lembutmu tetap terasa walau panas telah redupkan nyawa
lawanpun boleh menang mendapatkan raga
tak ayal hatimu selalu bercanda
dalam rintihan kerinduan, hatimu tetap kujaga
senyummu tetap kulihat
ragamu tetap kupeluk
walaupun lawan tlah mengikis harapan
namun kobaran rindu tetap berjaya
hantarkan rindu ini kepada hatimu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar