rasa ini awalnya sudah mati, kosong, dan hampa sejak ditinggalkan oleh seseorang 'pembunuh perasaan'. rasa menggelenyar dalam tubuhku sudah lama padam setelah diporak-porandakan olehnya. rona merah malu yang bersarang di wajahku juga sudah mulai pudar seiring datangnya kehampaan yang diakibatkan olehnya. awal mula pasca kehampaan itu terjadi terasa aneh. ketika dulu menjadi pusat oleh seseorang dan tiba-tiba dia pergi untuk mengikuti pusatnya yang baru. seperti ada yang kurang. dan ketika hati, tubuh, dan pikiran ini sudah mulai terbiasa dengan kepergiannya, tiba-tiba datang orang baru yang masuk ke dalam cerita hidupku. seseorang yang secara tidak sengaja muncul di hidupku. dengan cara yang biasa-biasa saja.
awalnya memang tidak ada yang spesial dari orang baru itu. walaupun ku akui tampangnya yang cukup manis ditambah dengan sikapnya yang baik terhadap orang bisa meluluhlantakkan hati perempuan mana saja. awalnya biasa saja. dia hanya lelaki yang menjadi seniorku, hanya itu. nothing special. hingga seiring berjalannya waktu. semakin tinggi intensitas kedua bola mataku menangkap siluet tubuhnya, wajahnya, senyumannya pada saat yang bahkan tidak kubayangkan. hingga perlahan gelenyar itu datang lagi. sedikit demi sedikit gelenyar itu semakin menguat, semakin menguat, dan semakin menguat. gelenyar yang familiar. apakah kekosongan itu sudah terisi sedikit demi sedikit tanpa kusadari? oleh siapa? orang baru itu? rasa itu datang begitu cepat. membingungkan. hingga akhirnya aku memilih untuk mengabaikan perasaan itu. mengabaikan gelenyar-gelenyar yang menggelitik namun nyaman itu.
hari demi hari terlewati. dan semakin lama gelenyar itu semakin kuat. semakin susah untuk diabaikan. dan membuatku semakin tersadar bahwa rasa ini sudah tidak bisa diabaikan lagi. pilihan terakhirku saat ini adalah mengikuti gelenyar itu berkembang. mengikuti rasa itu mengalir. membiarkan sosok senior itu berlari-lari dalam setiap pikiranku. membiarkannya muncul di kelopak mataku saat aku menutup mata. satu hal yang aku sadari, aku mencintainya, aku menyukainya, dan aku mengaguminya.
hari demi hari terlewati. dan semakin lama gelenyar itu semakin kuat. semakin susah untuk diabaikan. dan membuatku semakin tersadar bahwa rasa ini sudah tidak bisa diabaikan lagi. pilihan terakhirku saat ini adalah mengikuti gelenyar itu berkembang. mengikuti rasa itu mengalir. membiarkan sosok senior itu berlari-lari dalam setiap pikiranku. membiarkannya muncul di kelopak mataku saat aku menutup mata. satu hal yang aku sadari, aku mencintainya, aku menyukainya, dan aku mengaguminya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar