Rabu, 30 Januari 2013
poem
dalam rintik hujan di sore hari
tangisanku beradu dengan dinginnya hati
gundah resah berbaur dengan linanganku
dalam lirih ku berbrisik pada refleksiku
derai tangis bisu tanpa nada
gambarkan kesedihan yang kental terasa
tangis bisu telah sirna
bersama senja yang menghitam
tak ada bintang di langit malam
seilah-olah turut serta dalam duka
orkestra jangrik mulai bergema dalam sunyi
mencoba untuk ciptakan melodi dalam lara
walaupun duka tetap naungi atmosfer jiwa
Kembali
dalam raga yang semakin membeku
terpaku dengan alunan yang beremosi
aliran darah tak lagi keras terasa
detak jantung yang tak berirama
pandangan tak lagi ada
hanya alunan pilu dalam raga
aku tak pernah berharap untuk merasakannya
namun semua akan kembali pada-Nya
dengan derai air mata yang iringi perjalanan
menuju tempat yang kekal
Sabtu, 22 Desember 2012
gemericik air
merelaksasikan kembali otot yang merenggang
mengedarkan ammarah yang kuasai pikiran
gemericik air yang meleburkan kesunyian
hasilkan orkestra alam bersama nyanyian katak
segarkan jiwa yang terbakar asa
gemericik air yang redamkan amarah
medinginkan aliran darah yang sarat akan kecemburuan
menormalkan kembali detak jantung yang berlarian
gemericik air yang mengalir di sungai
teman bermain bagi para flora
bagai zat adiktif yang harus dikonsumsi fauna
gemericik air yang mengalir
melabuhkan kenangan untuk kembali berputar
mengenag segala kerinduan yang berakhir dengan perpisahan
gemericik air,
sederhana dengan sejuta kehidupan
akankah?
ribuan bait lagu kudendangkan. lirih. dengan sedikit polesan bayangan sosoknya terselip disetiap nada demi nada untuk menegaskan bahwa lantunan itu untuknya. hanya untuknya. tapi aku bisa apa? untaian kalimat bermelodi itu terlalu lemah, tak bertenaga hingga sosok yang berjarak puluhan kilometer dari tempatku terduduk itu tak menangkap simphoni yang kusampaikan padanya melalui telepati.
tak bisakah ia menajamkan sedikit hatinya?
agar ia bisa menangkap sinyal rindu yang kusampaikan. tak bisakah ia mendengar lantunan melodi yang kudedikasikan untuknya? bisakah ia?
ah mungkinkah aku terlalu berharap?
rindu ini terlalu kuat. hingga dapat melemahkan sel saraf yang menampung rasa rindu ini. hingga aku melemah tak berdaya karena kandungan rindu di darahku terlalu berlebihan. hingga rindu itu kucoba keluarkan melalui linangan air mata, namun tetap adanya di setiap nadiku. tak berkurang. bisakah ia merasakannya?
kelemahanku ini apakah tak ia pandang? rindu-rindu yang kian menjadi benalu di tubuhku ini tak menyentuh batinnya. ia dengan santainya berlari-lari. terkadang mampir di hati seseorang, lalu ia pergi, datang lagi di hati orang lain, lalu pergi lagi. kapan perjalanmu itu akan berakhir?
aku sudah lelah menahan segenap kerinduan yang membengkak. cepatlah pulang. aku menantimu. aku menantimu pulang. pulang ke hati ini. tapi apakah lagi-lagi aku terlalu berharap? apakah sosokmu itu akan kembali menggenggam rindu lalu membuangnya di sudut hati? akankah ia akan melukis ribuan kenangan baru untuk hati ini?
akankah?
aku bertanya
menyaksikan tenggelamnya sang raja di peraduan
mengikut-sertakan kerapuhan yang selalu kugenggam
membentuk aliran sungai yang berasal dari sepasang katup mata
aku bertanya,
akankah rasa ini akan sama?
seperti sang mentari yang tenggelam,
akankah rasa ini turut tenggelam,
bersama kenangan yang susah payah kurajut?
kutatap hitamnya malam yang mulai berkuasa
dan aku tetap bertanya,
akankah sekelam itu rasa ini?
akankah sepekat itu kerapuhan ini?
seperti malam yang kelam
namun ketika sang dewi beserta dayang-dayangnya muncul di langit
aku kembali bertanya,
apakah kelamnya hati ini akan ada sinar lain?
akankah ada pendar lain yang akan menyinarinya?
terlalu lelah dengan beribu pertanyaan
tanpa ada jawaban
dan kini aku hanya terdiam
menatap pekatnya langit malam
yang menyerupai pekatnya hatiku
Sabtu, 10 November 2012
Ketakutan
Aku memikirkannya
Sepasang mata berlapis lensa,
Menatap lembut sekelilingnya
Rambut hitam melawan gravitasinya,
Mempesona
Bibir ranumnya melengkung tipis,
Menjadi zat adiktif alami
Sikap pendiamnya menguatkan kemisteriusan
Tubuh tinggi tegapnya bersandar di kursi sudut belakang,
Menakjubkan
Aku tak paham
Sosok manis itu mengusik ketenanganku
Menyentuh ujung hatiku untuk memperhatikannya
Memperhatikan setiap gerakan yang ia ciptakan
Tanpa persetujuan, jantungku berlompatan
Tiap kali pandangan sepasang bola mataku mendapatkan potret senyumnya
Membuatku berharap,
Lensa alamiku dapat mencetak senyum dari bibir ranumnya
Sepasang mataku menikmati gerak geriknya
Tanpa perlu diperintah
Dan semakin membuat jantungku berdebam keras
Jangan, jangan menyebar
Rasa ini tak pantas ada
Lagi otakku menampilkan siluet paras tampannya
Indah namun menyakitkan
Ada sedikit rasa sakin menusuk disetiap inci hatiku
Aku ketakutan
berharap rasa berbunga ini menghilang
Seiring teriakan menggema di ujung hati
Aku paham betul rasa apa yang kupendam,
Untuk sosok bermata lapis lensa itu
Rasa mencintai untuk lelaki berparas tampan tersebut
Namun jiwa ini terlalu takut
Terlalu menyakitkan
Aku terlalu takut,
Pada sosok lain yang menyengkeram bayang-bayang masa lalu
Aku terlalu takut,
Dihujam kalimat-kalimat pedas
Tentang perbedaan yang membelenggu
Dan sayangnya
Lelaki berparas tampan yang menyita perhatianku itu,
Berbeda kepercayaan
Membuatku takut untuk mencintainya
Membuatku lagi dihujam rasa frustasi yang mengurung tubuhku
Jumat, 26 Oktober 2012
Hujan
berkolaborasi gema rintikan hujan yang mendominasi
diiringi alunan instrumental bertempo lambat
menemani raga tak berjiwa di bangku rotan
bukan. raga itu bukan tak bernyawa.
hanya jiwanya melanglang buana entah kemana
raga yang menatap kosong rintikan konstan milik hujan
seakan menghakimi bulir-bulir hujan yang tak bersalah
tanpa disadari, bulir-bulir bening itu juga ikut mengalir
tak ingin kalah dengan hujan di depan pelupuk mata,
bulir mutiara itu turut berjatuhan mengikuti alur konstan sang hujan
mengalir dengan polosnya.
menyelami raga tak berjiwa di bangku rotan
hatinya turut merintikkan hujan beserta petirnya
di sana mendung. tak ada secercah sinar matahari yang tersenyum
samar-samar, alunan melankolis turut mewarnai hati itu
menyayat.
gabungan antara rintik hujan dan alunan itu, menyayat.
raga tak berjiwa itu meregang nyawa. hatinya terluka.
kolaborasi di hatinya, pisau tak kasat mata.
menyakiti tanpa harus melukai
lembut yang berbahaya. fatal.
oh oh oh. ada alunan lain yang memilukan,
rintihan dari bibir tipis raga tak berjiwa, yang menyebut satu nama.
pelan namun mengiris
menyempurnakan fenomena menyayat hati yang sedang tertampilkan
hujan.
mengapa kamu menyiksa raga itu?
mengapa...mengapa kamu menampilkan kembali kisah-kisah memilukan di hidupnya?
mengapa kamu mengingatkannya tentang masa lalu yang ia lewati?
hujan.
bisakah kamu mengurangi dosis kenangan dalam aromamu?
biarkan raga itu bernafas.
jangan kamu tusuk dengan jarum-jarum tak kasat mata di rintikmu
jangan kamu lukai lagi raga itu. jiwanya sudah terluka.
tak ada yang tersisa. jiwa itu hancur, hujan.
hujan.
maukan kamu mengasihani raga tak berjiwa itu?
hatinya tercabik-cabik karena belati lembutmu
hati itu sudah terluka parah. jangan lagi kamu memberi luka baru.
luka-lukanya masih basah. masih terasa perih.
hujan.
maukan kamu mendengar rintihanku ini?
rintihan dari raga tak berjiwa di bangku rotan.
Rabu, 10 Oktober 2012
Hambar
tertekan hampa
tedesak sunyi
jangan tanyakan kenapa
akupun tak paham
rasa ini tak bermakna
getaran hanya refleks
ritme tak berguna
rasa ini ganjil
tak berasa
hanya denyutan menyakitkan
menggenggam erat rasa
menguar pedih tak berfaedah
terdesak di ulu hati
menyamarkan rasa yang sebenarnya
rasa ini asing
pedih namun hambar
terkoyak namun utuh
bahagia namun hampa
apa ini?
rasa ini langka
melontarkan kabut
menutupi pori-pori perasa
akankah ini fana
ataukah selamanya
lalu aku bisa apa?
haruskah aku menahan semua?
haruskah aku merasakan hampa
sedih
hati ini tak berasa
tak bermakna
tak berisi
hampa