Selasa, 19 November 2013
Alur Kehidupan
seiring berjalannya waktu, kilasan masa lalu juga turut menghantui disetiap langkah konsumen waktu. menggoda mereka untuk berbalik arah dan hidup bersama masa lalu, dan mendoktrin mereka dengan peristiwa-peristiwa yang sudah terlewatkan entah indah atau bahkan menyakitkan agar mereka hidup di bayang-bayang masa lalu tanpa harus berjalan cepat bersama sang waktu untuk masa depan. masa lalu terlalu egois untuk berdamai dengan masa depan.
sedangkan masa depan, hanya bisa tersenyum ketika sang waktu berjalan mendekatinya dengan sedikit pengikut di belakang sang waktu.
"apakah masa lalu masih tak ingin berdamai denganku?'
waktu hanya bisa mangatakan "memang benar pengikutku banyak yang terjerat dengan masa lalu karena takut untuk menghadapimu, masa depan."
masa depan hanya bisa tersenyum miris. kemudian ia menggiring pengikut sang waktu dengan kejutan-kejutan yang penuh warna.
"padahal aku tak melarang masa lalu untuk ikut menemaniku." batin masa depan.
jadi, apa kalian -pengikut sang waktu- tetap memilih berbalik bersama masa lalu tanpa masa depan? atau meniti masa depan dengan didampingi masa lalu yang turut memberi warna hidupmu dengan kilasan masa lalu untuk kau kenang?
Minggu, 03 Maret 2013
Sudahkah cinta ini memudar?
lalu apa yang berubah?
kurasakan dan terus kurasakan. membuatku merenungi kembali apa yang telah terjadi. dan ketika aku tersadar, ternyata organ di dalam rongga dadaku ini yang berubah. ia tak lagi berdetak menyalahi aturan. ia tak lagi menimbulkan rasa cemas berbaur kenyamanan. ia tak lagi menghasilkan getar-getar menggelikan di perutku. hanya hambar. hambar. dan hambar. tak lagi ada rasa memabukkan yang terpancar dari sosok itu. tak lagi ada getar-getar yang kukenal. hanya rasa biasa yang tak kusadari sejak kapan rasa itu bersarang. hati ini tak lagi menghangat ketika melihat lengkungan senyum manis menawan yang ia tarik dari kedua sudut bibir tipisnya. walaupun dengan jujur kuakui sosok itu menjelma menjadi makhluk Tuhan yang indah. meski secara fisik ia tak berubah. tapi auranya semakin hari semakin menguar. namun tetap saja ia tak lagi mengguncangkan akal sehatku.
apa yang terjadi padaku?
rasa ini tak lagi berpendar seperti sebelumnya. rasa ini melemah. tak lagi ada rasa peduli terhadapnya. walaupun otakku menyangkal, namun tak dapat dipungkiri kalau hatiku justru membenarkan. rasa ini tak lagi sekuat dulu. rasanya tak lagi sama. tak lagi menelusup dalam setiap inci tubuhku. bagaikan ditarik paksa, jiwaku tak paham akan ini semua. rasa yang setiap hari menemaniku dengan mensuplai bayang-bayang wajahnya di pikiranku tiba-tiba menghilang. hingga menghambarkan raga.
membingungkan.
ada secuil rasa lega ketika rasa itu pergi. karena hati ini tak lagi menekan jiwa terlalu dalam. hingga secara tak sadar, tak hanya jiwaku, ternyata ragaku juga ikut tenggelam dalam rasa itu. dan ketika rasa itu menghilang, rasa tertekan itu tak lagi menyesakkan.
namun ada juga separuh rasa kehilangan. tak rela jika rasa yang telah menjadi teman menghilang dari raga. tak dipungkiri bahwa aku merindukan rasa itu.
jadi, apakah cinta ini benar-benar sudah memudar?
Rabu, 30 Januari 2013
poem
dalam rintik hujan di sore hari
tangisanku beradu dengan dinginnya hati
gundah resah berbaur dengan linanganku
dalam lirih ku berbrisik pada refleksiku
derai tangis bisu tanpa nada
gambarkan kesedihan yang kental terasa
tangis bisu telah sirna
bersama senja yang menghitam
tak ada bintang di langit malam
seilah-olah turut serta dalam duka
orkestra jangrik mulai bergema dalam sunyi
mencoba untuk ciptakan melodi dalam lara
walaupun duka tetap naungi atmosfer jiwa
Kembali
dalam raga yang semakin membeku
terpaku dengan alunan yang beremosi
aliran darah tak lagi keras terasa
detak jantung yang tak berirama
pandangan tak lagi ada
hanya alunan pilu dalam raga
aku tak pernah berharap untuk merasakannya
namun semua akan kembali pada-Nya
dengan derai air mata yang iringi perjalanan
menuju tempat yang kekal
Sabtu, 22 Desember 2012
gemericik air
merelaksasikan kembali otot yang merenggang
mengedarkan ammarah yang kuasai pikiran
gemericik air yang meleburkan kesunyian
hasilkan orkestra alam bersama nyanyian katak
segarkan jiwa yang terbakar asa
gemericik air yang redamkan amarah
medinginkan aliran darah yang sarat akan kecemburuan
menormalkan kembali detak jantung yang berlarian
gemericik air yang mengalir di sungai
teman bermain bagi para flora
bagai zat adiktif yang harus dikonsumsi fauna
gemericik air yang mengalir
melabuhkan kenangan untuk kembali berputar
mengenag segala kerinduan yang berakhir dengan perpisahan
gemericik air,
sederhana dengan sejuta kehidupan
akankah?
ribuan bait lagu kudendangkan. lirih. dengan sedikit polesan bayangan sosoknya terselip disetiap nada demi nada untuk menegaskan bahwa lantunan itu untuknya. hanya untuknya. tapi aku bisa apa? untaian kalimat bermelodi itu terlalu lemah, tak bertenaga hingga sosok yang berjarak puluhan kilometer dari tempatku terduduk itu tak menangkap simphoni yang kusampaikan padanya melalui telepati.
tak bisakah ia menajamkan sedikit hatinya?
agar ia bisa menangkap sinyal rindu yang kusampaikan. tak bisakah ia mendengar lantunan melodi yang kudedikasikan untuknya? bisakah ia?
ah mungkinkah aku terlalu berharap?
rindu ini terlalu kuat. hingga dapat melemahkan sel saraf yang menampung rasa rindu ini. hingga aku melemah tak berdaya karena kandungan rindu di darahku terlalu berlebihan. hingga rindu itu kucoba keluarkan melalui linangan air mata, namun tetap adanya di setiap nadiku. tak berkurang. bisakah ia merasakannya?
kelemahanku ini apakah tak ia pandang? rindu-rindu yang kian menjadi benalu di tubuhku ini tak menyentuh batinnya. ia dengan santainya berlari-lari. terkadang mampir di hati seseorang, lalu ia pergi, datang lagi di hati orang lain, lalu pergi lagi. kapan perjalanmu itu akan berakhir?
aku sudah lelah menahan segenap kerinduan yang membengkak. cepatlah pulang. aku menantimu. aku menantimu pulang. pulang ke hati ini. tapi apakah lagi-lagi aku terlalu berharap? apakah sosokmu itu akan kembali menggenggam rindu lalu membuangnya di sudut hati? akankah ia akan melukis ribuan kenangan baru untuk hati ini?
akankah?
aku bertanya
menyaksikan tenggelamnya sang raja di peraduan
mengikut-sertakan kerapuhan yang selalu kugenggam
membentuk aliran sungai yang berasal dari sepasang katup mata
aku bertanya,
akankah rasa ini akan sama?
seperti sang mentari yang tenggelam,
akankah rasa ini turut tenggelam,
bersama kenangan yang susah payah kurajut?
kutatap hitamnya malam yang mulai berkuasa
dan aku tetap bertanya,
akankah sekelam itu rasa ini?
akankah sepekat itu kerapuhan ini?
seperti malam yang kelam
namun ketika sang dewi beserta dayang-dayangnya muncul di langit
aku kembali bertanya,
apakah kelamnya hati ini akan ada sinar lain?
akankah ada pendar lain yang akan menyinarinya?
terlalu lelah dengan beribu pertanyaan
tanpa ada jawaban
dan kini aku hanya terdiam
menatap pekatnya langit malam
yang menyerupai pekatnya hatiku
Sabtu, 10 November 2012
Ketakutan
Aku memikirkannya
Sepasang mata berlapis lensa,
Menatap lembut sekelilingnya
Rambut hitam melawan gravitasinya,
Mempesona
Bibir ranumnya melengkung tipis,
Menjadi zat adiktif alami
Sikap pendiamnya menguatkan kemisteriusan
Tubuh tinggi tegapnya bersandar di kursi sudut belakang,
Menakjubkan
Aku tak paham
Sosok manis itu mengusik ketenanganku
Menyentuh ujung hatiku untuk memperhatikannya
Memperhatikan setiap gerakan yang ia ciptakan
Tanpa persetujuan, jantungku berlompatan
Tiap kali pandangan sepasang bola mataku mendapatkan potret senyumnya
Membuatku berharap,
Lensa alamiku dapat mencetak senyum dari bibir ranumnya
Sepasang mataku menikmati gerak geriknya
Tanpa perlu diperintah
Dan semakin membuat jantungku berdebam keras
Jangan, jangan menyebar
Rasa ini tak pantas ada
Lagi otakku menampilkan siluet paras tampannya
Indah namun menyakitkan
Ada sedikit rasa sakin menusuk disetiap inci hatiku
Aku ketakutan
berharap rasa berbunga ini menghilang
Seiring teriakan menggema di ujung hati
Aku paham betul rasa apa yang kupendam,
Untuk sosok bermata lapis lensa itu
Rasa mencintai untuk lelaki berparas tampan tersebut
Namun jiwa ini terlalu takut
Terlalu menyakitkan
Aku terlalu takut,
Pada sosok lain yang menyengkeram bayang-bayang masa lalu
Aku terlalu takut,
Dihujam kalimat-kalimat pedas
Tentang perbedaan yang membelenggu
Dan sayangnya
Lelaki berparas tampan yang menyita perhatianku itu,
Berbeda kepercayaan
Membuatku takut untuk mencintainya
Membuatku lagi dihujam rasa frustasi yang mengurung tubuhku