kamu tahu betul apa itu cinta. kamu tahu betul apa definisi dari kata sayang. tapi, mengapa kamu seakan-akan mendadak buta akan itu semua?
sebuah pertanyaan yang bahkan hingga detik ini menjadi sebuah momok besar dalam setiap aliran dalam otakku. pertanyaan yang melayang-layang tanpa tahu jawabannya karena kamu memilih untuk bungkam. memilih untuk menyimpannya sendiri tanpa memahami apa yang sangat kutunggu-tunggu dari setiap kata yang terucap dari bibirmu itu.
rasa ini memang hanya rasa biasa. rasa yang tak berdasar akan hal yang pasti. rasa yang hampir selalu terselip dalam barisan suku kata di setiap pengucapan yang keluar dari bibir para remaja. rasa yang tak pantas disebut suka karena rasa ini sudah melebihi level itu. tak pantas pula disebut kagum karena aku tak memperhatikan kelebihannya. mungkinkah ini rasa sayang?
ada waktu dikala aku meragu akan setiap perasaan-perasaan yang muncul di dalam rongga ini. meragu akan setiap getaran-getaran lembut yang menyentuh sudut perutku hingga membuatnya terasa bergetar bagai dihinggapi ribuan kupu-kupu. meragu akan setiap sengatan-sengatan lembut yang menjalar ke kedua bongkah pipiku.
namun ada hal yang membuatku berani meluapkannya. ada tangan-tangan kecil yang mendorongku untuk meluapkan perasaan-perasaan itu di setiap langkah jika keraguan mulai membayangiku.
terkadang aku mulai berpikir bahwa aku terlalu mengedepankan sisi keegoisanku dalam hal ini. aku terlalu egois untuk mengedepankan sebuah bentuk perasaan yang bahkan aku sendiri tidak paham akan arti-artinya secara mendalam. aku hanya mengedepankan sisi emosiku yang terlalu menggebu-gebu akan segala hal yang berhubungan denganmu.
dan pada detik ini aku menyadari sesuatu. dari mudah dan tipisnya sebuah tali yang mengikat kita ini, membuatku berpikir ulang akan setiap siluet kejadian yang telah kita lalui. terlalu sedikit memang karena tali ini masih rapuh, masih muda, dan butuh pengalaman untuk menjadikannya sebuah tali pengikat yang kuat. tetapi siluet-siluet itu tergambar jelas bahwa pengikat itu terlalu panjang hingga aku merasa hanya aku sendiri yang memegang ujung tali itu erat-erat seakan aku tidak ingin ujung tali itu terlepas dari genggaman kedua tangan mungilku ini. sedangkan ujung satunya hanya kamu lepaskan begitu saja hingga memudahkan tali-tali yang lebih menarik mudah untuk mengikatmu lebih kencang dari tali kita dan membiarkan taliku terlepas begitu saja dari lilitan di ragamu. apakah pemikiranku ini benar?
karena pemikiran-pemikiran itu yang membuatku menelan pahit tentang manisnya sebuah cinta. dan memunculkan berbagai petanyaan yang tercetus dalam otakku. apa benar cinta itu manis? lalu dalam kasus kita, apa itu dinamakan cinta? sedangkan kata 'mereka' cinta itu tentang sebuah ikatan tali yang disetiap ujungnya di pegang erat hingga tidak mudah terlepas oleh kedua belah hati yang terikat tali tersebut. padahal dalam kasus kita ini hanya aku saja yang menggenggam erat satu ujung yang mengikat kita. apakah aku salah? lalu hubungan apa yang sedang kita jalani ini kalau bukan yang namanya cinta?
pemikiran-peminkiran itu muncul menerjangku hingga aku tejatuh dalam jurang yang paling dalam. membuat segala hubungan tentang logika dan hati menjadi buyar dan terputus. dan kemudian diantara logika dan hati, ternyata raga ini memfokuskan pada hati yang mengelu-elukan namamu. sekarang semuanya tentang hatiku yang terlalu menitik-beratkan pada namamu. aku terlalu memfokuskan hatiku hingga mengubahnya menjadi sebuah ambisi. ambisi untuk mengikatmu lebih erat hingga tidak memikirkan apa yang sedang kamu rasakan. apa aku terlalu egois?
aku tidak tau apa aku egois bagi hak-hakmu, makadari itu, tolong katakan sejujurnya apa yang kamu rasakan agar aku dapat memutuskan apakah aku harus bertahan memegang erat ujung tali tersebut secara erat atau aku harus melepaskan ujung tali yang telah aku jaga itu secara perlahan. agar aku tidak egois dan kamu tidak tertahan dalam ikatan tali yang sia-sia.
Jumat, 17 Januari 2014
Selasa, 19 November 2013
Alur Kehidupan
waktu terus berjalan. berlari secara konstan tanpa henti dan tanpa bisa di putar ulang. memaksa seluruh konsumen sang waktu untuk ikut berlari mensejajari lariannya. walaupun banyak konsumennya berlari dengan tertatih-tatih karena langkahnya terlalu pendek untuk bisa berlari berdampingan dengan langkah sang waktu. dengan angkuh dan arogan sang waktu terus melangkah tanpa memperdulikan pengikutnya. dia tak pernah sekalipun mencoba untuk menoleh ke belakang barang sedetikpun.
seiring berjalannya waktu, kilasan masa lalu juga turut menghantui disetiap langkah konsumen waktu. menggoda mereka untuk berbalik arah dan hidup bersama masa lalu, dan mendoktrin mereka dengan peristiwa-peristiwa yang sudah terlewatkan entah indah atau bahkan menyakitkan agar mereka hidup di bayang-bayang masa lalu tanpa harus berjalan cepat bersama sang waktu untuk masa depan. masa lalu terlalu egois untuk berdamai dengan masa depan.
sedangkan masa depan, hanya bisa tersenyum ketika sang waktu berjalan mendekatinya dengan sedikit pengikut di belakang sang waktu.
"apakah masa lalu masih tak ingin berdamai denganku?'
waktu hanya bisa mangatakan "memang benar pengikutku banyak yang terjerat dengan masa lalu karena takut untuk menghadapimu, masa depan."
masa depan hanya bisa tersenyum miris. kemudian ia menggiring pengikut sang waktu dengan kejutan-kejutan yang penuh warna.
"padahal aku tak melarang masa lalu untuk ikut menemaniku." batin masa depan.
jadi, apa kalian -pengikut sang waktu- tetap memilih berbalik bersama masa lalu tanpa masa depan? atau meniti masa depan dengan didampingi masa lalu yang turut memberi warna hidupmu dengan kilasan masa lalu untuk kau kenang?
seiring berjalannya waktu, kilasan masa lalu juga turut menghantui disetiap langkah konsumen waktu. menggoda mereka untuk berbalik arah dan hidup bersama masa lalu, dan mendoktrin mereka dengan peristiwa-peristiwa yang sudah terlewatkan entah indah atau bahkan menyakitkan agar mereka hidup di bayang-bayang masa lalu tanpa harus berjalan cepat bersama sang waktu untuk masa depan. masa lalu terlalu egois untuk berdamai dengan masa depan.
sedangkan masa depan, hanya bisa tersenyum ketika sang waktu berjalan mendekatinya dengan sedikit pengikut di belakang sang waktu.
"apakah masa lalu masih tak ingin berdamai denganku?'
waktu hanya bisa mangatakan "memang benar pengikutku banyak yang terjerat dengan masa lalu karena takut untuk menghadapimu, masa depan."
masa depan hanya bisa tersenyum miris. kemudian ia menggiring pengikut sang waktu dengan kejutan-kejutan yang penuh warna.
"padahal aku tak melarang masa lalu untuk ikut menemaniku." batin masa depan.
jadi, apa kalian -pengikut sang waktu- tetap memilih berbalik bersama masa lalu tanpa masa depan? atau meniti masa depan dengan didampingi masa lalu yang turut memberi warna hidupmu dengan kilasan masa lalu untuk kau kenang?
Minggu, 03 Maret 2013
Sudahkah cinta ini memudar?
sosoknya masih sama. kacamata minus yang bertengger di pangkal hidungnya masih sama. senyum manisnya masih sama, tak sedikitpun memudar. aromanya pun masih bisa kuhirup, aroma yang memabukkan. matanya masih tajam yang tersamarkan. suaranya masih sama seperti dulu pula.
lalu apa yang berubah?
kurasakan dan terus kurasakan. membuatku merenungi kembali apa yang telah terjadi. dan ketika aku tersadar, ternyata organ di dalam rongga dadaku ini yang berubah. ia tak lagi berdetak menyalahi aturan. ia tak lagi menimbulkan rasa cemas berbaur kenyamanan. ia tak lagi menghasilkan getar-getar menggelikan di perutku. hanya hambar. hambar. dan hambar. tak lagi ada rasa memabukkan yang terpancar dari sosok itu. tak lagi ada getar-getar yang kukenal. hanya rasa biasa yang tak kusadari sejak kapan rasa itu bersarang. hati ini tak lagi menghangat ketika melihat lengkungan senyum manis menawan yang ia tarik dari kedua sudut bibir tipisnya. walaupun dengan jujur kuakui sosok itu menjelma menjadi makhluk Tuhan yang indah. meski secara fisik ia tak berubah. tapi auranya semakin hari semakin menguar. namun tetap saja ia tak lagi mengguncangkan akal sehatku.
apa yang terjadi padaku?
rasa ini tak lagi berpendar seperti sebelumnya. rasa ini melemah. tak lagi ada rasa peduli terhadapnya. walaupun otakku menyangkal, namun tak dapat dipungkiri kalau hatiku justru membenarkan. rasa ini tak lagi sekuat dulu. rasanya tak lagi sama. tak lagi menelusup dalam setiap inci tubuhku. bagaikan ditarik paksa, jiwaku tak paham akan ini semua. rasa yang setiap hari menemaniku dengan mensuplai bayang-bayang wajahnya di pikiranku tiba-tiba menghilang. hingga menghambarkan raga.
membingungkan.
ada secuil rasa lega ketika rasa itu pergi. karena hati ini tak lagi menekan jiwa terlalu dalam. hingga secara tak sadar, tak hanya jiwaku, ternyata ragaku juga ikut tenggelam dalam rasa itu. dan ketika rasa itu menghilang, rasa tertekan itu tak lagi menyesakkan.
namun ada juga separuh rasa kehilangan. tak rela jika rasa yang telah menjadi teman menghilang dari raga. tak dipungkiri bahwa aku merindukan rasa itu.
jadi, apakah cinta ini benar-benar sudah memudar?
lalu apa yang berubah?
kurasakan dan terus kurasakan. membuatku merenungi kembali apa yang telah terjadi. dan ketika aku tersadar, ternyata organ di dalam rongga dadaku ini yang berubah. ia tak lagi berdetak menyalahi aturan. ia tak lagi menimbulkan rasa cemas berbaur kenyamanan. ia tak lagi menghasilkan getar-getar menggelikan di perutku. hanya hambar. hambar. dan hambar. tak lagi ada rasa memabukkan yang terpancar dari sosok itu. tak lagi ada getar-getar yang kukenal. hanya rasa biasa yang tak kusadari sejak kapan rasa itu bersarang. hati ini tak lagi menghangat ketika melihat lengkungan senyum manis menawan yang ia tarik dari kedua sudut bibir tipisnya. walaupun dengan jujur kuakui sosok itu menjelma menjadi makhluk Tuhan yang indah. meski secara fisik ia tak berubah. tapi auranya semakin hari semakin menguar. namun tetap saja ia tak lagi mengguncangkan akal sehatku.
apa yang terjadi padaku?
rasa ini tak lagi berpendar seperti sebelumnya. rasa ini melemah. tak lagi ada rasa peduli terhadapnya. walaupun otakku menyangkal, namun tak dapat dipungkiri kalau hatiku justru membenarkan. rasa ini tak lagi sekuat dulu. rasanya tak lagi sama. tak lagi menelusup dalam setiap inci tubuhku. bagaikan ditarik paksa, jiwaku tak paham akan ini semua. rasa yang setiap hari menemaniku dengan mensuplai bayang-bayang wajahnya di pikiranku tiba-tiba menghilang. hingga menghambarkan raga.
membingungkan.
ada secuil rasa lega ketika rasa itu pergi. karena hati ini tak lagi menekan jiwa terlalu dalam. hingga secara tak sadar, tak hanya jiwaku, ternyata ragaku juga ikut tenggelam dalam rasa itu. dan ketika rasa itu menghilang, rasa tertekan itu tak lagi menyesakkan.
namun ada juga separuh rasa kehilangan. tak rela jika rasa yang telah menjadi teman menghilang dari raga. tak dipungkiri bahwa aku merindukan rasa itu.
jadi, apakah cinta ini benar-benar sudah memudar?
Rabu, 30 Januari 2013
poem
Senja dalam Kesedihan
dalam rintik hujan di sore hari
tangisanku beradu dengan dinginnya hati
gundah resah berbaur dengan linanganku
dalam lirih ku berbrisik pada refleksiku
derai tangis bisu tanpa nada
gambarkan kesedihan yang kental terasa
tangis bisu telah sirna
bersama senja yang menghitam
tak ada bintang di langit malam
seilah-olah turut serta dalam duka
orkestra jangrik mulai bergema dalam sunyi
mencoba untuk ciptakan melodi dalam lara
walaupun duka tetap naungi atmosfer jiwa
Kembali
dalam raga yang semakin membeku
terpaku dengan alunan yang beremosi
aliran darah tak lagi keras terasa
detak jantung yang tak berirama
pandangan tak lagi ada
hanya alunan pilu dalam raga
aku tak pernah berharap untuk merasakannya
namun semua akan kembali pada-Nya
dengan derai air mata yang iringi perjalanan
menuju tempat yang kekal
dalam rintik hujan di sore hari
tangisanku beradu dengan dinginnya hati
gundah resah berbaur dengan linanganku
dalam lirih ku berbrisik pada refleksiku
derai tangis bisu tanpa nada
gambarkan kesedihan yang kental terasa
tangis bisu telah sirna
bersama senja yang menghitam
tak ada bintang di langit malam
seilah-olah turut serta dalam duka
orkestra jangrik mulai bergema dalam sunyi
mencoba untuk ciptakan melodi dalam lara
walaupun duka tetap naungi atmosfer jiwa
Kembali
dalam raga yang semakin membeku
terpaku dengan alunan yang beremosi
aliran darah tak lagi keras terasa
detak jantung yang tak berirama
pandangan tak lagi ada
hanya alunan pilu dalam raga
aku tak pernah berharap untuk merasakannya
namun semua akan kembali pada-Nya
dengan derai air mata yang iringi perjalanan
menuju tempat yang kekal
Sabtu, 22 Desember 2012
gemericik air
gemericik air tenangkan jiwa
merelaksasikan kembali otot yang merenggang
mengedarkan ammarah yang kuasai pikiran
gemericik air yang meleburkan kesunyian
hasilkan orkestra alam bersama nyanyian katak
segarkan jiwa yang terbakar asa
gemericik air yang redamkan amarah
medinginkan aliran darah yang sarat akan kecemburuan
menormalkan kembali detak jantung yang berlarian
gemericik air yang mengalir di sungai
teman bermain bagi para flora
bagai zat adiktif yang harus dikonsumsi fauna
gemericik air yang mengalir
melabuhkan kenangan untuk kembali berputar
mengenag segala kerinduan yang berakhir dengan perpisahan
gemericik air,
sederhana dengan sejuta kehidupan
merelaksasikan kembali otot yang merenggang
mengedarkan ammarah yang kuasai pikiran
gemericik air yang meleburkan kesunyian
hasilkan orkestra alam bersama nyanyian katak
segarkan jiwa yang terbakar asa
gemericik air yang redamkan amarah
medinginkan aliran darah yang sarat akan kecemburuan
menormalkan kembali detak jantung yang berlarian
gemericik air yang mengalir di sungai
teman bermain bagi para flora
bagai zat adiktif yang harus dikonsumsi fauna
gemericik air yang mengalir
melabuhkan kenangan untuk kembali berputar
mengenag segala kerinduan yang berakhir dengan perpisahan
gemericik air,
sederhana dengan sejuta kehidupan
akankah?
kalimat ini didampingi sekelebat memori tentang sesosok manusia. bergender laki-laki. tingginya mungkin lima inci dari tinggi badanku. sosok itu nyata. ya memang nyata adanya di dalam setiap lantunan lirih kalimat rindu yang kuucapkan. lirih. sangat lirih. hingga sosok itu tak mampu mendengarkannya.
ribuan bait lagu kudendangkan. lirih. dengan sedikit polesan bayangan sosoknya terselip disetiap nada demi nada untuk menegaskan bahwa lantunan itu untuknya. hanya untuknya. tapi aku bisa apa? untaian kalimat bermelodi itu terlalu lemah, tak bertenaga hingga sosok yang berjarak puluhan kilometer dari tempatku terduduk itu tak menangkap simphoni yang kusampaikan padanya melalui telepati.
tak bisakah ia menajamkan sedikit hatinya?
agar ia bisa menangkap sinyal rindu yang kusampaikan. tak bisakah ia mendengar lantunan melodi yang kudedikasikan untuknya? bisakah ia?
ah mungkinkah aku terlalu berharap?
rindu ini terlalu kuat. hingga dapat melemahkan sel saraf yang menampung rasa rindu ini. hingga aku melemah tak berdaya karena kandungan rindu di darahku terlalu berlebihan. hingga rindu itu kucoba keluarkan melalui linangan air mata, namun tetap adanya di setiap nadiku. tak berkurang. bisakah ia merasakannya?
kelemahanku ini apakah tak ia pandang? rindu-rindu yang kian menjadi benalu di tubuhku ini tak menyentuh batinnya. ia dengan santainya berlari-lari. terkadang mampir di hati seseorang, lalu ia pergi, datang lagi di hati orang lain, lalu pergi lagi. kapan perjalanmu itu akan berakhir?
aku sudah lelah menahan segenap kerinduan yang membengkak. cepatlah pulang. aku menantimu. aku menantimu pulang. pulang ke hati ini. tapi apakah lagi-lagi aku terlalu berharap? apakah sosokmu itu akan kembali menggenggam rindu lalu membuangnya di sudut hati? akankah ia akan melukis ribuan kenangan baru untuk hati ini?
akankah?
ribuan bait lagu kudendangkan. lirih. dengan sedikit polesan bayangan sosoknya terselip disetiap nada demi nada untuk menegaskan bahwa lantunan itu untuknya. hanya untuknya. tapi aku bisa apa? untaian kalimat bermelodi itu terlalu lemah, tak bertenaga hingga sosok yang berjarak puluhan kilometer dari tempatku terduduk itu tak menangkap simphoni yang kusampaikan padanya melalui telepati.
tak bisakah ia menajamkan sedikit hatinya?
agar ia bisa menangkap sinyal rindu yang kusampaikan. tak bisakah ia mendengar lantunan melodi yang kudedikasikan untuknya? bisakah ia?
ah mungkinkah aku terlalu berharap?
rindu ini terlalu kuat. hingga dapat melemahkan sel saraf yang menampung rasa rindu ini. hingga aku melemah tak berdaya karena kandungan rindu di darahku terlalu berlebihan. hingga rindu itu kucoba keluarkan melalui linangan air mata, namun tetap adanya di setiap nadiku. tak berkurang. bisakah ia merasakannya?
kelemahanku ini apakah tak ia pandang? rindu-rindu yang kian menjadi benalu di tubuhku ini tak menyentuh batinnya. ia dengan santainya berlari-lari. terkadang mampir di hati seseorang, lalu ia pergi, datang lagi di hati orang lain, lalu pergi lagi. kapan perjalanmu itu akan berakhir?
aku sudah lelah menahan segenap kerinduan yang membengkak. cepatlah pulang. aku menantimu. aku menantimu pulang. pulang ke hati ini. tapi apakah lagi-lagi aku terlalu berharap? apakah sosokmu itu akan kembali menggenggam rindu lalu membuangnya di sudut hati? akankah ia akan melukis ribuan kenangan baru untuk hati ini?
akankah?
aku bertanya
kuberdiri menatap semburat jingga
menyaksikan tenggelamnya sang raja di peraduan
mengikut-sertakan kerapuhan yang selalu kugenggam
membentuk aliran sungai yang berasal dari sepasang katup mata
aku bertanya,
akankah rasa ini akan sama?
seperti sang mentari yang tenggelam,
akankah rasa ini turut tenggelam,
bersama kenangan yang susah payah kurajut?
kutatap hitamnya malam yang mulai berkuasa
dan aku tetap bertanya,
akankah sekelam itu rasa ini?
akankah sepekat itu kerapuhan ini?
seperti malam yang kelam
namun ketika sang dewi beserta dayang-dayangnya muncul di langit
aku kembali bertanya,
apakah kelamnya hati ini akan ada sinar lain?
akankah ada pendar lain yang akan menyinarinya?
terlalu lelah dengan beribu pertanyaan
tanpa ada jawaban
dan kini aku hanya terdiam
menatap pekatnya langit malam
yang menyerupai pekatnya hatiku
menyaksikan tenggelamnya sang raja di peraduan
mengikut-sertakan kerapuhan yang selalu kugenggam
membentuk aliran sungai yang berasal dari sepasang katup mata
aku bertanya,
akankah rasa ini akan sama?
seperti sang mentari yang tenggelam,
akankah rasa ini turut tenggelam,
bersama kenangan yang susah payah kurajut?
kutatap hitamnya malam yang mulai berkuasa
dan aku tetap bertanya,
akankah sekelam itu rasa ini?
akankah sepekat itu kerapuhan ini?
seperti malam yang kelam
namun ketika sang dewi beserta dayang-dayangnya muncul di langit
aku kembali bertanya,
apakah kelamnya hati ini akan ada sinar lain?
akankah ada pendar lain yang akan menyinarinya?
terlalu lelah dengan beribu pertanyaan
tanpa ada jawaban
dan kini aku hanya terdiam
menatap pekatnya langit malam
yang menyerupai pekatnya hatiku
Langganan:
Postingan (Atom)