Rabu, 20 September 2023

fase si pemuja

 ia...

cinta, konon katanya

rayuan, pujian, menggema di daun telinga

si pemuja yang lembut dengan tutur kata


... hari

tersenyum bahagia,

dicintai dengan penuh,

membuncah

merah muda


... minggu

tersadar,

laku yang tak tahu di awal,

muncul perlahan.

wajar


... bulan

manis dan pahit, ada.

bertahan karena rasa

padahal luka menumpuk,

sembuh dan membekas.


... tahun

hati bak kaca,

ringkih dan rawan pecah.

rasa memudar dan menghilang

lukanya menjadi kasat mata


si pemuja menjadi pematik api

merah membara

hingga tak mampu-

meredakannya.


Yogyakarta, 24 Januari 2022

Sabtu, 25 Februari 2017

dibalik cerita singkat kita.

kamu tahu? pada awalnya, bagiku kamu hanyalah orang asing yang kukira akan hilang dengan sekejap dari sebuah perkenalan di dunia maya.

kamu tahu? pada awalnya, aku tidak tertarik kepadamu, bahkan aku tidak berpikiran untuk itu.

kamu tahu? pada awalnya, aku hanya menganggapmu sebagai pengisi kekosonganku, pengisi kesepianku.

kamu tahu? ketika kemudian kita bercengkrama dalam jarak yang memisahkan kita, saat itu pertama kali aku mendengarmu, melihatmu dalam bayangku, dan menyadari kehadiranmu.

kamu tahu? saat itu aku mulai mengagumi suaramu. dan saat itu aku tersadar, aku mulai tertarik untuk lebih dekat denganmu. saat itu juga keinginan untuk mendengar suaramu lebih lama mulai muncul.

kamu tahu? seiring berjalannya waktu aku mulai candu akan kehadiranmu. aku mulai candu akan suaramu. aku mulai candu akan tawamu.

kamu tahu? saat itu, saat kejadian yang membuatmu menjauh, saat itu aku merasakan kepanikan, kebingungan.

kamu tahu? diantara panik dan bingungku saat itu, ada rasa lain yang muncul membayang. menohokku. menyadarkanku.

dan kamu tahu? rasa itu, ternyata cinta. ya, aku mencintaimu, menyukaimu, dan mengagumimu.

kamu tahu? mereka menganggapku gila. setiap komentar yang kudapatkan dari pendengar ceritaku tentangmu mengatakan aku gila. "dia sangat jauh dan maya" katanya. "kamu mau gambling perasaanmu sendiri dengan menyukainya?" katanya.

kamu tahu? walaupun begitu, perasaanku tidak dapat dirubah, bukan? aku tetap mencintaimu, meskipun aku tahu rasa ini hanya akan menyakiti diriku sendiri.

dan kamu tahu? setelah kamu pergi dan mulai mengacuhkanku, perasaan itu jatuh semakin dalam.

kamu tahu? sampai sekarang, rasa itu masih hidup. menunggumu kembali, walaupun tidak tahu kapan akan kembali.

Yogyakarta, 26 Februari 2017.

Senin, 27 Oktober 2014

ikhlas?

pernahkah aku mengatakan bahwa aku akan tetap bahagia di atas kesedihanku sendiri? bahagia disaat dia bahagia entah dengan siapapun itu yang dapat membuatnya nyaman? aku memang pernah mengatakannya, turut bahagia disaat dia bahagia dengan pilihannya sendiri. dan pastinya bukan aku.

bukan aku yang mengisi setiap detik tawa lebarnya, bukan aku yang menatap setiap menit senyum manisnya, bukan aku yang menemani setiap jam kenyamanannya. dan pastinya bukan aku juga yang mendengar setiap getar suara baritonnya menggemakan kata cinta, kata sayang, kata rindu, dan kata-kata lain yang memiliki getar berbeda. hanya getar yang ditujukan untuk orang terspesialnya.

sakit memang. ketika menyadari bahwa ternyata dia memiliki kaitan benang merah yang berbeda. ketika menyadari bahwa ternyata kutub yang berbeda itu tidak saling menarik seperti yang diharapkan. tidak saling terhubung untuk dapat saling menyatu.

sakit memang. ketika menyadari bahwa perasaan yang sudah terlalu lama dipertahankan akhirnya mendapatkan jawaban. bukan jawaban yang baik memang. sebuah jawaban yang mengiris lembut perasaan. tidak dengan pisau tajam, bukan pula dengan paku berujung runcing. hanya dengan sebuah fakta yang menyakitkan. fakta yang bagai sayatan silet. tipis namun melukai.

sakit memang. ketika mengetahui bahwa sela-sela jemarinya sudah terisi oleh jemari lain. ketika menyadari bahwa jemarinya saling menggenggam erat penuh perlindungan dengan jemari lain milik seorang perempuan. perempuan yang pastinya bukan aku.

pedih memang. ketika menyadari bahwa debaran nyaman yang selalu ada ketika menatapnya berubah menjadi debaran menyakitkan yang menyesakkan saat menatapnya berdampingan dengan perempuan lain.

lalu ketika aku sudah menyadari semuanya, apa yang harus kulakukan? ketika perasaan yang dengan akrabnya menemani hari-hariku mendapat balasan yang terasa sangat pedih ini? ikhlaskah aku ketika mengetahui bahwa dia sudah dimiliki orang lain?

Selasa, 15 April 2014

sebuah keputusan

untuk bisa mencintainya itu sangat mudah. hanya perlu menatapnya selama 5 detik tanpa mengalihkan pandangan. dan voila! siluet wajah manisnya itu akan benar-benar terbayang sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. terlalu gampang memang. tapi memang begitu adanya. tulisan ini tidak hanya mengada-ada. karena aku sendiri sudah merasakannya. wajah manisnya itu benar-benar membekas dalam ingatanku.
bulan sudah berganti dan bayangan wajah itu tetap saja belum pudar. senyum manisnya itu masih melekat erat dalam ingatanku.

sebenarnya awalnya aku tidak ingin mempertahankan perasaan ini. pada awalnya aku ingin melupakan perasaan ini.
kenapa? kalau ditanya kenapa tentu saja jawabannya hanya satu. saat itu aku masih terikat dengan seseorang yang pada saat itu kuyakini bahwa aku mencintainya. tetapi lama kelamaan perasaan itu berkembang. membesar. membengkak. hingga aku menyadari bahwa rasa yang pada awalnya ingin aku tinggalkan itu malah tumbuh menjadi kuat. semakin kuat. dan bertambah kuat. hingga aku menyadari bahwa seharusnya aku mempertahankan perasaan itu. perasaan terhadapnya.

dan sekarang disaat aku sendiri. aku mencoba untuk melakukan yang seharusnya aku lakukan sejak beberapa bulan yang lalu. mempertahankan perasaan itu. dan berharap perasaan itu akan terbalaskan.
bodoh memang. mempertahankan perasaan yang bahkan belum tentu terbalaskan. abu-abu. tapi apa boleh buat? aku terlanjur mencintainya. menanggung perasaan yang berat dan tidak tersampaikan malah akan menyakiti tubuh sendiri, bukan?
makadari itu aku akan memperjuangkan perasaan ini. bagaimanapun caranya. yang terpenting dalam perasaan ini adalah bagaimana aku sudah mengusahakannya untuk ia dapat dipahami dan dapat dimengerti oleh orang yang memiliki sangkut paut dalam perasaan ini. jika pada akhirnya perasaan itu tetap tidak terbalaskan juga tak apa. toh aku sudah mengusahakannya. sudah bergerak untuk berusaha. setidaknya ada cerita dibalik perasaan yang tidak terbalas. setidaknya ada kisah bagaimana aku memperjuangkan perasaan itu. walaupun pada akhirnya akan berakhir menyedihkan. toh perasaan orang tidak bisa dipaksakan, kan?
tapi jika perasaan ini nantinya terbalaskan, aku akan merasa sangat bahagia. sangat sangat bahagia. dan aku akan merasa menjadi perempuan paling bahagia di dunia ini.

tapi sekali lagi, biarkan kali ini waktu yang membimbingku untuk menelusup dinding hatinya secara perlahan agar aku dapat mendapatkan kebahagiaan. biarkan waktu yang menjadi saksi bagaimana perjalanan perasaan ini akan berujung. menanti puncak dimana perasaan ini akan mendapatkan jawabannya. entah perasaan ini akan mendapatkan kesedihan ataupun mendapatkan kebahagiaan. 
tetapi jika memang perasaaan ini akan mendapatkan kesedihan itu aku akan tetap mencoba untuk bahagia. karena pilihannya adalah yang paling utama bagiku. aku akan bahagia akan hal itu. jika mempertanyakan kenapa dengan bodohnya aku bahagia diatas kesedihanku sendiri? tentu saja hanya satu jawaban yang sesuai untuk menjawab pertanyaan itu, karena aku mencintainya.

Sabtu, 12 April 2014

Dia

dia dan tubuh tegapnya
hanya bisa kupandang lekat dari kejauhan
pemilik senyuman manis itu mempesona
menjadikannya candu
adiksi bagi tubuhku
dia dan kharismanya
terlalu memancar,
terlalu silau untukku menghindar
terlalu sulit untuk diabaikan
dia terlalu indah
dia terlalu sempurna
dan dia terlalu jauh
susah untukku meraihnya

Rabu, 09 April 2014

orang baru?

ada saatnya ketika kamu dihadapkan pada rasa yang sebelumnya sudah sangat lama absen dari kehidupanmu dan tiba-tiba rasa itu datang seiring datangnya orang baru yang masuk ke dalam lingkup hidupmu.

rasa ini awalnya sudah mati, kosong, dan hampa sejak ditinggalkan oleh seseorang 'pembunuh perasaan'. rasa menggelenyar dalam tubuhku sudah lama padam setelah diporak-porandakan olehnya. rona merah malu yang bersarang di wajahku juga sudah mulai pudar seiring datangnya kehampaan yang diakibatkan olehnya. awal mula pasca kehampaan itu terjadi terasa aneh. ketika dulu menjadi pusat oleh seseorang dan tiba-tiba dia pergi untuk mengikuti pusatnya yang baru. seperti ada yang kurang. dan ketika hati, tubuh, dan pikiran ini sudah mulai terbiasa dengan kepergiannya, tiba-tiba datang orang baru yang masuk ke dalam cerita hidupku. seseorang yang secara tidak sengaja muncul di hidupku. dengan cara yang biasa-biasa saja.

awalnya memang tidak ada yang spesial dari orang baru itu. walaupun ku akui tampangnya yang cukup manis  ditambah dengan sikapnya yang baik terhadap orang bisa meluluhlantakkan hati perempuan mana saja. awalnya biasa saja. dia hanya lelaki yang menjadi seniorku, hanya itu. nothing special. hingga seiring berjalannya waktu. semakin tinggi intensitas kedua bola mataku menangkap siluet tubuhnya, wajahnya, senyumannya pada saat yang bahkan tidak kubayangkan. hingga perlahan gelenyar itu datang lagi. sedikit demi sedikit gelenyar itu semakin menguat, semakin menguat, dan semakin menguat. gelenyar yang familiar. apakah kekosongan itu sudah terisi sedikit demi sedikit tanpa kusadari? oleh siapa? orang baru itu? rasa itu datang begitu cepat. membingungkan. hingga akhirnya aku memilih untuk mengabaikan perasaan itu. mengabaikan gelenyar-gelenyar yang menggelitik namun nyaman itu.

hari demi hari terlewati. dan semakin lama gelenyar itu semakin kuat. semakin susah untuk diabaikan. dan membuatku semakin tersadar bahwa rasa ini sudah tidak bisa diabaikan lagi. pilihan terakhirku saat ini adalah mengikuti gelenyar itu berkembang. mengikuti rasa itu mengalir. membiarkan sosok senior itu berlari-lari dalam setiap pikiranku. membiarkannya muncul di kelopak mataku saat aku menutup mata. satu hal yang aku sadari, aku mencintainya, aku menyukainya, dan aku mengaguminya.

Jumat, 17 Januari 2014

apa aku egois?

kamu tahu betul apa itu cinta. kamu tahu betul apa definisi dari kata sayang. tapi, mengapa kamu seakan-akan mendadak buta akan itu semua?

sebuah pertanyaan yang bahkan hingga detik ini menjadi sebuah momok besar dalam setiap aliran dalam otakku. pertanyaan yang melayang-layang tanpa tahu jawabannya karena kamu memilih untuk bungkam. memilih untuk menyimpannya sendiri tanpa memahami apa yang sangat kutunggu-tunggu dari setiap kata yang terucap dari bibirmu itu.

rasa ini memang hanya rasa biasa. rasa yang tak berdasar akan hal yang pasti. rasa yang hampir selalu terselip dalam barisan suku kata di setiap pengucapan yang keluar dari bibir para remaja. rasa yang tak pantas disebut suka karena rasa ini sudah melebihi level itu. tak pantas pula disebut kagum karena aku tak memperhatikan kelebihannya. mungkinkah ini rasa sayang?

ada waktu dikala aku meragu akan setiap perasaan-perasaan yang muncul di dalam rongga ini. meragu akan setiap getaran-getaran lembut yang menyentuh sudut perutku hingga membuatnya terasa bergetar bagai dihinggapi ribuan kupu-kupu. meragu akan setiap sengatan-sengatan lembut yang menjalar ke kedua bongkah pipiku.
namun ada hal yang membuatku berani meluapkannya. ada tangan-tangan kecil yang mendorongku untuk meluapkan perasaan-perasaan itu di setiap langkah jika keraguan mulai membayangiku.
terkadang aku mulai berpikir bahwa aku terlalu mengedepankan sisi keegoisanku dalam hal ini. aku terlalu egois untuk mengedepankan sebuah bentuk perasaan yang bahkan aku sendiri tidak paham akan arti-artinya secara mendalam. aku hanya mengedepankan sisi emosiku yang terlalu menggebu-gebu akan segala hal yang berhubungan denganmu.

dan pada detik ini aku menyadari sesuatu. dari mudah dan tipisnya sebuah tali yang mengikat kita ini, membuatku berpikir ulang akan setiap siluet kejadian yang telah kita lalui. terlalu sedikit memang karena tali ini masih rapuh, masih muda, dan butuh pengalaman untuk menjadikannya sebuah tali pengikat yang kuat. tetapi siluet-siluet itu tergambar jelas bahwa pengikat itu terlalu panjang hingga aku merasa hanya aku sendiri yang memegang ujung tali itu erat-erat seakan aku tidak ingin ujung tali itu terlepas dari genggaman kedua tangan mungilku ini. sedangkan ujung satunya hanya kamu lepaskan begitu saja hingga memudahkan tali-tali yang lebih menarik mudah untuk mengikatmu lebih kencang dari tali kita dan membiarkan taliku terlepas begitu saja dari lilitan di ragamu. apakah pemikiranku ini benar?

karena pemikiran-pemikiran itu yang membuatku menelan pahit tentang manisnya sebuah cinta. dan memunculkan berbagai petanyaan yang tercetus dalam otakku. apa benar cinta itu manis? lalu dalam kasus kita, apa itu dinamakan cinta? sedangkan kata 'mereka' cinta itu tentang sebuah ikatan tali yang disetiap ujungnya di pegang erat hingga tidak mudah terlepas oleh kedua belah hati yang terikat tali tersebut. padahal dalam kasus kita ini hanya aku saja yang menggenggam erat satu ujung yang mengikat kita. apakah aku salah? lalu hubungan apa yang sedang kita jalani ini kalau bukan yang namanya cinta?

pemikiran-peminkiran itu muncul menerjangku hingga aku tejatuh dalam jurang yang paling dalam. membuat segala hubungan tentang logika dan hati menjadi buyar dan terputus. dan kemudian diantara logika dan hati, ternyata raga ini memfokuskan pada hati yang mengelu-elukan namamu. sekarang semuanya tentang hatiku yang terlalu menitik-beratkan pada namamu. aku terlalu memfokuskan hatiku hingga mengubahnya menjadi sebuah ambisi. ambisi untuk mengikatmu lebih erat hingga tidak memikirkan apa yang sedang kamu rasakan. apa aku terlalu egois?
aku tidak tau apa aku egois bagi hak-hakmu, makadari itu, tolong katakan sejujurnya apa yang kamu rasakan agar aku dapat memutuskan apakah aku harus bertahan memegang erat ujung tali tersebut secara erat atau aku harus melepaskan ujung tali yang telah aku jaga itu secara perlahan. agar aku tidak egois dan kamu tidak tertahan dalam ikatan tali yang sia-sia.

Selasa, 19 November 2013

Alur Kehidupan

waktu terus berjalan. berlari secara konstan tanpa henti dan tanpa bisa di putar ulang. memaksa seluruh konsumen sang waktu untuk ikut berlari mensejajari lariannya. walaupun banyak konsumennya berlari dengan tertatih-tatih karena langkahnya terlalu pendek untuk bisa berlari berdampingan dengan langkah sang waktu. dengan angkuh dan arogan sang waktu terus melangkah tanpa memperdulikan pengikutnya. dia tak pernah sekalipun mencoba untuk menoleh ke belakang barang sedetikpun.

seiring berjalannya waktu, kilasan masa lalu juga turut menghantui disetiap langkah konsumen waktu. menggoda mereka untuk berbalik arah dan hidup bersama masa lalu, dan mendoktrin mereka dengan peristiwa-peristiwa yang sudah terlewatkan entah indah atau bahkan menyakitkan agar mereka hidup di bayang-bayang masa lalu tanpa harus berjalan cepat bersama sang waktu untuk masa depan. masa lalu terlalu egois untuk berdamai dengan masa depan.

sedangkan masa depan, hanya bisa tersenyum ketika sang waktu berjalan mendekatinya dengan sedikit pengikut di belakang sang waktu.
"apakah masa lalu masih tak ingin berdamai denganku?'
waktu hanya bisa mangatakan "memang benar pengikutku banyak yang terjerat dengan masa lalu karena takut untuk menghadapimu, masa depan."
masa depan hanya bisa tersenyum miris. kemudian ia menggiring pengikut sang waktu dengan kejutan-kejutan yang penuh warna.
"padahal aku tak melarang masa lalu untuk ikut menemaniku." batin masa depan.

jadi, apa kalian -pengikut sang waktu- tetap memilih  berbalik bersama masa lalu tanpa masa depan? atau meniti masa depan dengan didampingi masa lalu yang turut memberi warna hidupmu dengan kilasan masa lalu untuk kau kenang?

Minggu, 03 Maret 2013

Sudahkah cinta ini memudar?

sosoknya masih sama. kacamata minus yang bertengger di pangkal hidungnya masih sama. senyum manisnya masih sama, tak sedikitpun memudar. aromanya pun masih bisa kuhirup, aroma yang memabukkan. matanya masih tajam yang tersamarkan. suaranya masih sama seperti dulu pula.

lalu apa yang berubah?

kurasakan dan terus kurasakan. membuatku merenungi kembali apa yang telah terjadi. dan ketika aku tersadar, ternyata organ di dalam rongga dadaku ini yang berubah. ia tak lagi berdetak menyalahi aturan. ia tak lagi menimbulkan rasa cemas berbaur kenyamanan. ia tak lagi menghasilkan getar-getar menggelikan di perutku. hanya hambar. hambar. dan hambar. tak lagi ada rasa memabukkan yang terpancar dari sosok itu. tak lagi ada getar-getar yang kukenal. hanya rasa biasa yang tak kusadari sejak kapan rasa itu bersarang. hati ini tak lagi menghangat ketika melihat lengkungan senyum manis menawan yang ia tarik dari kedua sudut bibir tipisnya. walaupun dengan jujur kuakui sosok itu menjelma menjadi makhluk Tuhan yang indah. meski secara fisik ia tak berubah. tapi auranya semakin hari semakin menguar. namun tetap saja ia tak lagi mengguncangkan akal sehatku.

apa yang terjadi padaku?

rasa ini tak lagi berpendar seperti sebelumnya. rasa ini melemah. tak lagi ada rasa peduli terhadapnya. walaupun otakku menyangkal, namun tak dapat dipungkiri kalau hatiku justru membenarkan. rasa ini tak lagi sekuat dulu. rasanya tak lagi sama. tak lagi menelusup dalam setiap inci tubuhku. bagaikan ditarik paksa, jiwaku tak paham akan ini semua. rasa yang setiap hari menemaniku dengan mensuplai bayang-bayang wajahnya di pikiranku tiba-tiba menghilang. hingga menghambarkan raga.

membingungkan.

ada secuil rasa lega ketika rasa itu pergi. karena hati ini tak lagi menekan jiwa terlalu dalam. hingga secara tak sadar, tak hanya jiwaku, ternyata ragaku juga ikut tenggelam dalam rasa itu. dan ketika rasa itu menghilang, rasa tertekan itu tak lagi menyesakkan.
namun ada juga separuh rasa kehilangan. tak rela jika rasa yang telah menjadi teman menghilang dari raga. tak dipungkiri bahwa aku merindukan rasa itu.

jadi, apakah cinta ini benar-benar sudah memudar?

Rabu, 30 Januari 2013

poem

Senja dalam Kesedihan

dalam rintik hujan di sore hari
tangisanku beradu dengan dinginnya hati
gundah resah berbaur dengan linanganku
dalam lirih ku berbrisik pada refleksiku
derai tangis bisu tanpa nada
gambarkan kesedihan yang kental terasa
tangis bisu telah sirna
bersama senja yang menghitam
tak ada bintang di langit malam
seilah-olah turut serta dalam duka
orkestra jangrik mulai bergema dalam sunyi
mencoba untuk ciptakan melodi dalam lara
walaupun duka tetap naungi atmosfer jiwa


Kembali

dalam raga yang semakin membeku
terpaku dengan alunan yang beremosi
aliran darah tak lagi keras terasa
detak jantung yang tak berirama
pandangan tak lagi ada
hanya alunan pilu dalam raga
aku tak pernah berharap untuk merasakannya
namun semua akan kembali pada-Nya
dengan derai air mata yang iringi perjalanan
menuju tempat yang kekal

Sabtu, 22 Desember 2012

gemericik air

gemericik air tenangkan jiwa
merelaksasikan kembali otot yang merenggang
mengedarkan ammarah yang kuasai pikiran
gemericik air yang meleburkan kesunyian
hasilkan orkestra alam bersama nyanyian katak
segarkan jiwa yang terbakar asa
gemericik air yang redamkan amarah
medinginkan aliran darah yang sarat akan kecemburuan
menormalkan kembali detak jantung yang berlarian
gemericik air yang mengalir di sungai
teman bermain bagi para flora
bagai zat adiktif yang harus dikonsumsi fauna
gemericik air yang mengalir
melabuhkan kenangan untuk kembali berputar
mengenag segala kerinduan yang berakhir dengan perpisahan
gemericik air,
sederhana dengan sejuta kehidupan

akankah?

kalimat ini didampingi sekelebat memori tentang sesosok manusia. bergender laki-laki. tingginya mungkin lima inci dari tinggi badanku. sosok itu nyata. ya memang nyata adanya di dalam setiap lantunan lirih kalimat rindu yang kuucapkan. lirih. sangat lirih. hingga sosok itu tak mampu mendengarkannya.

ribuan bait lagu kudendangkan. lirih. dengan sedikit polesan bayangan sosoknya terselip disetiap nada demi nada untuk menegaskan bahwa lantunan itu untuknya. hanya untuknya. tapi aku bisa apa? untaian kalimat bermelodi itu terlalu lemah, tak bertenaga hingga sosok yang berjarak puluhan kilometer dari tempatku terduduk itu tak menangkap simphoni yang kusampaikan padanya melalui telepati.


tak bisakah ia menajamkan sedikit hatinya?
agar ia bisa menangkap sinyal rindu yang kusampaikan. tak bisakah ia mendengar lantunan melodi yang kudedikasikan untuknya? bisakah ia?
ah mungkinkah aku terlalu berharap?
rindu ini terlalu kuat. hingga dapat melemahkan sel saraf yang menampung rasa rindu ini. hingga aku melemah tak berdaya karena kandungan rindu di darahku terlalu berlebihan. hingga rindu itu kucoba keluarkan melalui linangan air mata, namun tetap adanya di setiap nadiku. tak berkurang. bisakah ia merasakannya?

kelemahanku ini apakah tak ia pandang? rindu-rindu yang kian menjadi benalu di tubuhku ini tak menyentuh batinnya. ia dengan santainya berlari-lari. terkadang mampir di hati seseorang, lalu ia pergi, datang lagi di hati orang lain, lalu pergi lagi. kapan perjalanmu itu akan berakhir?

aku sudah lelah menahan segenap kerinduan yang membengkak. cepatlah pulang. aku menantimu. aku menantimu pulang. pulang ke hati ini. tapi apakah lagi-lagi aku terlalu berharap? apakah sosokmu itu akan kembali menggenggam rindu lalu membuangnya di sudut hati? akankah ia akan melukis ribuan kenangan baru untuk hati ini?
 akankah?

aku bertanya

kuberdiri menatap semburat jingga
menyaksikan tenggelamnya sang raja di peraduan
mengikut-sertakan kerapuhan yang selalu kugenggam
membentuk aliran sungai yang berasal dari sepasang katup mata
aku bertanya,
akankah rasa ini akan sama?
seperti sang mentari yang tenggelam,
akankah rasa ini turut tenggelam,
bersama kenangan yang susah payah kurajut?
kutatap hitamnya malam yang mulai berkuasa
dan aku tetap bertanya,
akankah sekelam itu rasa ini?
akankah sepekat itu kerapuhan ini?
seperti malam yang kelam

namun ketika sang dewi beserta dayang-dayangnya muncul di langit
aku kembali bertanya,
apakah kelamnya hati ini akan ada sinar lain?
akankah ada pendar lain yang akan menyinarinya?

terlalu lelah dengan beribu pertanyaan
tanpa ada jawaban
dan kini aku hanya terdiam
menatap pekatnya langit malam
yang menyerupai pekatnya hatiku

Sabtu, 10 November 2012

Ketakutan

Aku memikirkannya
Sepasang mata berlapis lensa,
Menatap lembut sekelilingnya
Rambut hitam melawan gravitasinya,
Mempesona
Bibir ranumnya melengkung tipis,
Menjadi zat adiktif alami
Sikap pendiamnya menguatkan kemisteriusan
Tubuh tinggi tegapnya bersandar di kursi sudut belakang,
Menakjubkan

Aku tak paham
Sosok manis itu mengusik ketenanganku
Menyentuh ujung hatiku untuk memperhatikannya
Memperhatikan setiap gerakan yang ia ciptakan
Tanpa persetujuan, jantungku berlompatan
Tiap kali pandangan sepasang bola mataku mendapatkan potret senyumnya
Membuatku berharap,
Lensa alamiku dapat mencetak senyum dari bibir ranumnya
Sepasang mataku menikmati gerak geriknya
Tanpa perlu diperintah
Dan semakin membuat jantungku berdebam keras

Jangan, jangan menyebar
Rasa ini tak pantas ada
Lagi otakku menampilkan siluet paras tampannya
Indah namun menyakitkan
Ada sedikit rasa sakin menusuk disetiap inci hatiku
Aku ketakutan
berharap rasa berbunga ini menghilang
Seiring teriakan menggema di ujung hati
Aku paham betul rasa apa yang kupendam,
Untuk sosok bermata lapis lensa itu
Rasa mencintai untuk lelaki berparas tampan tersebut
Namun jiwa ini terlalu takut
Terlalu menyakitkan

Aku terlalu takut,
Pada sosok lain yang menyengkeram bayang-bayang masa lalu
Aku terlalu takut,
Dihujam kalimat-kalimat pedas
Tentang perbedaan yang membelenggu
Dan sayangnya
Lelaki berparas tampan yang menyita perhatianku itu,
Berbeda kepercayaan
Membuatku takut untuk mencintainya
Membuatku lagi dihujam rasa frustasi yang mengurung tubuhku

Jumat, 26 Oktober 2012

Hujan

dalam diam helaan nafas itu mendengung, berat.
berkolaborasi gema rintikan hujan yang mendominasi
diiringi alunan instrumental bertempo lambat
menemani raga tak berjiwa di bangku rotan
bukan. raga itu bukan tak bernyawa.
hanya jiwanya melanglang buana entah kemana
raga yang menatap kosong rintikan konstan milik hujan
seakan menghakimi bulir-bulir hujan yang tak bersalah
tanpa disadari, bulir-bulir bening itu juga ikut mengalir
tak ingin kalah dengan hujan di depan pelupuk mata,
bulir mutiara itu turut berjatuhan mengikuti alur konstan sang hujan
mengalir dengan polosnya.

menyelami raga tak berjiwa di bangku rotan
hatinya turut merintikkan hujan beserta petirnya
di sana mendung. tak ada secercah sinar matahari yang tersenyum
samar-samar, alunan melankolis turut mewarnai hati itu

menyayat.
gabungan antara rintik hujan dan alunan itu, menyayat.
raga tak berjiwa itu meregang nyawa. hatinya terluka.
kolaborasi di hatinya, pisau tak kasat mata.
menyakiti tanpa harus melukai
lembut yang berbahaya. fatal.

oh oh oh. ada alunan lain yang memilukan,
rintihan dari bibir tipis raga tak berjiwa, yang menyebut satu nama.
pelan namun mengiris
menyempurnakan fenomena menyayat hati yang sedang tertampilkan

hujan.
mengapa kamu menyiksa raga itu?
mengapa...mengapa kamu menampilkan kembali kisah-kisah memilukan di hidupnya?
mengapa kamu mengingatkannya tentang masa lalu yang ia lewati?
hujan.
bisakah kamu mengurangi dosis kenangan dalam aromamu?
biarkan raga itu bernafas.
jangan kamu tusuk dengan jarum-jarum tak kasat mata di rintikmu
jangan kamu lukai lagi raga itu. jiwanya sudah terluka.
tak ada yang tersisa. jiwa itu hancur, hujan.
hujan.
maukan kamu mengasihani raga tak berjiwa itu?
hatinya tercabik-cabik karena belati lembutmu
hati itu sudah terluka parah. jangan lagi kamu memberi luka baru.
luka-lukanya masih basah. masih terasa perih.
hujan.
maukan kamu mendengar rintihanku ini?
rintihan dari raga tak berjiwa di bangku rotan.

Rabu, 10 Oktober 2012

Hambar

mengecap hambar
tertekan hampa
tedesak sunyi
jangan tanyakan kenapa
akupun tak paham
rasa ini tak bermakna
getaran hanya refleks
ritme tak berguna
rasa ini ganjil
tak berasa
hanya denyutan menyakitkan
menggenggam erat rasa
menguar pedih tak berfaedah
terdesak di ulu hati
menyamarkan rasa yang sebenarnya
rasa ini asing
pedih namun hambar
terkoyak namun utuh
bahagia namun hampa
apa ini?
rasa ini langka
melontarkan kabut
menutupi pori-pori perasa
akankah ini fana
ataukah selamanya
lalu aku bisa apa?
haruskah aku menahan semua?
haruskah aku merasakan hampa
sedih
hati ini tak berasa
tak bermakna
tak berisi
hampa

Rabu, 03 Oktober 2012

September Akhir

September akhir,
ketika hati ini terikat seuntai benang,
terikat dengan hatimu
hati ini masih bisa dirasakan
denyut denyut nadi berkejar-kejaran
mengangkut rangsang bahagia di sel saraf
menggetarkan hati yang kian menghangat

September akhir,
ketika sayap-sayapku masih patah karenanya
masih tak dapat digerakkan, mati rasa, tak berguna
namun tiba-tiba kamu datang
menyentuh sayap patahku
lalu kau sembuhkan penuh perhatian
tak luput dari luka-luka lama yang masih membekas
kau obati luka itu penuh ikhlas

September akhir,
saat kepakkan sayapku mulai terasa
bahagia tak terkira karenanya
dan kamu terbang bersamaku di angkasa
menjamahi sudut-sudut ruang hampa
menggenggam lembut hati yang merona

September akhir,
mengingatkanku akan perbedaan
ketika kesadaran kian menggerogotiku, bahwa
kau di jalan Bapa, sedangkan aku
di jalan Allah
tembok tinggi itu membatasi kita
tapi

di September akhir,
aku menyadari,
perbedaan bukanlah masalah
buatku paham
perbedaan itu menguatkanku
menyatukan kita

Jumat, 24 Agustus 2012

bunga tidur

pagi ini, seluruh mimpi yang sedari tadi menari-nari dalam lingkup otakku sedikit demi sedikit meluntur. aku benci, kenapa mimpi akan cepat terlupakan. sekeras apapun cara untuk mengingatnya. hey aku tidak sedang berbual. itu kenyataan. aku sendiri yang melakukan 'hal bodoh' itu. disetiap bunga tidur yang indah, aku selalu mencoba untuk mengingatnya. tapi hasilnya? aku hanya ingat sebagian kecil. hanya sebagian potongan puzzle yang kembali di acak.

oh ya. kembali lagi pada mimpiku pagi ini. mimpi yang membuatku tersenyum. ya. bunga tidur yang baru saja kualami itu terasa sangat indah. saking indahnya, mimpi itu membuatku melayang. bodoh bukan? haha.
hmm mimpi pagi ini...oh astaga! aku membayangkan mimpi itu lagi! walaupun tidak sesempurna mimpi yang asli namun bayangan itu tetap membuatku bahagia dan mungkin aku akan disangka orang gila karena tersenyum-senyum sendiri.
sembari menari-narikan jemariku untuk menulis kalimat demi kalimat ini, lagi-lagi aku tersenyum.
bolehkan aku menceritakan sedikit rahasia kecil dalam bunga tidurku malam ini? setidaknya, aku menorehkan kalimat demi kalimat ini dengan sepenuh hati. apakah aku berlebihan? menurutku tidak ah.

saat itu. entah aku tak tahu sebenarnya kita berada dimana. kita? iya. kita. aku dan kamu. bolehkan aku menyebut aku dan kamu sebagai kita? seingatku tempat itu berada di padang ilalang yang menyembunyikan sebuah danau indah. kita bersenda gurau. akrab. terlihat sebagai sepasang kekasih yang sangat membuat orang melihatnya iri. tapi sayang sekali, di mimpi itu tak ada orang lain selain kita hahahaha. kita berlari di hamparan luas ilalang dengan jemari yang saling bertautan. indah. kita berlari-lari hingga lelah mulai hinggap di tubuh  kita. dan kita menjatuhkan diri di padang ilalang. kurasakan tanganmu kembali mencoba bertaut di jemari mungilku. kuingat saat itu aku tersenyum. pipiku memanas! haha. bahagia tentu saja. sudah lama aku tak merasakan genggaman tangannya. dan dalam mimpi ini aku merasakannya kembali. walaupun cuma mimpi.....iya cuma mimpi. apa salah? aku merasakan mimpi itu sangat nyata.
terkadang kamu mengacak pelan rambutku dan mebuat rambutku berantakan. saat aku cemberut karena perbuatanmu, kamu merapikan rambutku dengan jemarimu. plus cubitan di salah satu sisi pipiku. memang tidak sakit, tapi mampu membuat pipiku memanas. bukan karena sakit, tapi karena sentuhan tangannya.

ah hanya itu sebagian potongan puzzle yang kuingat. sayang sekali........padahal aku yakin ada lebih banyak hal yang kita lakukan di padang ilalang itu. sayang ingatan itu kian meluruh. andai saja bunga tidur itu dapat terekam lebih banyak.
oh iya, kamu. kalau kamu menyayanginya, lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. aku ikhlas. walaupun menyesakkan. dan maaf, hanya dengan cara ini aku merasakanmu yang menyayangiku. dengan berbagai mimpi tentang kita. tolong....jangan paksa aku untuk tidak memimpikanmu. karena ini bukan kemauanku. mungkin saat aku tertidur, hatiku selalu merindukanmu. sehingga hatiku menyuruh otak untuk membuat sekelumit potongan kisah indah kita untukku. sekali lagi maaf.

Minggu, 05 Agustus 2012

Berubah

dalam ladang alang-alang
melambai-lambai membelai
menyentuh langit luas
menggerayangi hampa
cahaya bulan merambat
memantulkan sinar sang raja
nyanyian jangkrik menelusuk masuk
dalam dalam jadikan simphoni alam
ia melenguh
menatap hamparan kunang-kunang
menari-nari di bawah pantulan bulan
indah
damai
seketika terbang ke metropolitan
gedung-gedung pencakar langit mencakar-cakar hampa
hingar bingar mesin terdengar dari robot kuda
kunang-kunang menghilang
tergantikan tenggeran lampu
alunan abstrak,
campuran club malam
aroma menyesakkan dari carbon monoxida
tak ada ilalang
hanya ada lampu pinggiran
bising
sedih

semuanya berubah
surga dunia hancur tertelan bangunan

Jeritan

Bisakah aku? Menggenggam serpihan rindu yang terkoyak. Yang telah hancur lebur karena debaman luka.

Bolehkah aku menggetarkan lagi bait-bait cinta yang kian hancur ditelan waktu.

Sanggupkah aku menatapmu, menatap manik matamu yang memancarkan sinar namun bukan untukku.

Jika sinar itu benar berpendar bukan untukku, yakinkan aku, sadar kan aku. Agar aku dapat tertatih menjauh dan menatapmu dari jarak yang membentang.

Tersenyumlah. Agar aku dapat melihat senyum apa yang kau suguhkan untukku. Agar aku dapat membaca makna yang tersirat dari senyum itu.

Sanggupkah aku, melihatmu yang kini penuh bahagia. Yang kuyakini, pendar bahagia itu bukan dariku.

Sanggupkah aku, mengamatimu yang kini tak bersamaku. Menatapmu yang kini -mungkin- ada sesosok lain yang singgah di hatimu.

Sanggupkah aku, menahan penyesalan yang kian menghimpit rongga dadaku yang hampa?

Bisakah aku menggapai tali-tali rindu yang mulai lapuk tak terawat?

Bisakah aku menyenandungkan syair-syair yang menggambarkan rasa sayangku terhadapmu?

Jika kau menyayanginya, katakanlah kepadaku. Biarkan dawai-dawai cinta ini putus tak terpetik. Biarkan perih yang tinggal di hatiku semakin bergejolak. Biarkan dentum-dentum penyesalan itu meledak. Agar aku tak dapat merasakan sayangku terhadapmu.